Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Prospek Saham EBT saat Market Cap BREN Prajogo Pangestu Tembus Rp1.000 Triliun

Analis memandang prospek bisnis dari emiten-emiten di sektor EBT seperti BREN milik Prajogo Pangestu dan PGEO sangat cerah.
Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt (MW) milik Star Energy Geothermal, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018)./JIBI-Rachman
Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt (MW) milik Star Energy Geothermal, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018)./JIBI-Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - kapitalisasi pasar emiten energi baru terbarukan (EBT) PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) milik Prajogo Pangestu telah menembus angka Rp1.000 triliun. Lalu, bagaimana prospek dari bisnis EBT sendiri?

Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas Changkun Shin mengatakan prospek bisnis EBT di Indonesia dalam jangka pendek, menengah, dan panjang sangat cerah. Menurutnya, prospek bisnis yang cerah ini didukung oleh berbagai faktor. 

Faktor tersebut seperti kebijakan Pemerintah Indonesia yang berkomitmen untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025 dan 31% pada 2050.

"Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang mendukung pengembangan EBT," ujar Shin kepada Bisnis, Jumat (8/12/2023). 

Peraturan tersebut seperti Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2021 tentang Harga Pembelian Listrik EBT, dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2021 tentang Penyediaan Listrik dari EBT. 

Selain itu, kata dia, faktor lain adalah potensi sumber daya EBT yang besar. Menurut Shin, Indonesia memiliki potensi EBT yang besar, baik dari segi sumber daya maupun lokasi. 

Senada dengan Shin, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menuturkan prospek bisnis EBT di Indonesia sangat besar. 

Apalagi, lanjut Nico, Indonesia menargetkan untuk bisa mencapai 23% dalam bauran energi nasional, dan hanya tersisa kurang dari 2 tahun untuk mencapai target tersebut. Sementara itu, hingga 2022 bauran EBT baru mencapai 12%. 

Dengan potensi bisnis EBT yang besar ini, Nico menyarankan investor untuk mencermati dan mengamati saham-saham EBT. Dia menuturkan investor dapat memperhatikan momentum dan rasionalitas. 

"Selain itu juga, sandingkan dengan fundamental dan potensi valuasi di masa yang akan datang," ucapnya.

Adapun pada penutupan perdagangan hari ini, saham BREN tercatat ditutup naik 3,87% ke level Rp8.050. BREN milik Prajogo Pangestu mencetak kapitalisasi pasar Rp1.076 triliun, yang merupakan kapitalisasi pasar terbesar kedua setelah BBCA. 

Sama seperti BREN, emiten EBT lainnya PT Pertamina Geothermal EnergyEnergy Tbk. (BREN) juga menutup perdagangan pada zona hijau. Saham PGEO naik 7,34% ke level Rp1.170 hari ini, Jumat (8/12/2023).

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper