Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Berpotensi Naik Lagi setelah Keputusan BI, Cek Saham Potensi Cuan

Laju IHSG juga tersengat sentimen Bank Indonesia (BI) yang kemarin mengumumkan menahan suku bunga acuan BI7DRR di level 6%.
Annisa Kurniasari Saumi, Artha Adventy
Jumat, 24 November 2023 | 07:52
Laju IHSG juga tersengat sentimen Bank Indonesia (BI) yang kemarin mengumumkan menahan suku bunga acuan BI7DRR di level 6%. Bisnis/Arief Hermawan P
Laju IHSG juga tersengat sentimen Bank Indonesia (BI) yang kemarin mengumumkan menahan suku bunga acuan BI7DRR di level 6%. Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, Jumat (24/11/2023). Laju IHSG juga tersengat sentimen Bank Indonesia (BI) yang kemarin mengumumkan menahan suku bunga acuan BI7DRR di level 6%.

Pada penutupan perdagangan Kamis (23/11/2023), IHSG berada di level 7.004 atau naik 1,41%. Sepanjang perdagangan indeks bergerak di level 6.926 hingga 7.018. IHSG ditopang oleh 315 saham yang naik, 226 saham turun dan 215 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.098,70 triliun. 

Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menjelaskan IHSG hari ini berpotensi konsolidasi dalam rentang 6.930-7.000. 

“Secara teknikal, terdapat pelebaran positive slope pada MACD serta Stochastic RSI telah turun dari overbought area,” katanya dalam riset harian, Kamis (23/11/2023). 

Valdy mengatakan pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan internal. Dari eksternal, data continuing jobless claims Amerika Serikat turun menjadi 1,84 juta untuk minggu yang berakhir pada 11 November dari sebelumnya di 1,86 juta. 

Jumlah data pengangguran ini menunjukkan bahwa kondisi sektor ketenagakerjaan di AS relatif stabil. Kondisi ini tidak mempengaruhi kemungkinan The Fed untuk menahan suku bunga acuan di Desember.

Sementara itu dalam negeri, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 6% dan hal ini sesuai dengan ekspektasi para pelaku pasar. 

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada level 6% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diselenggarakan pada hari ini, Kamis (23/11/2023). Sebelumnya, pada RDG bulan lalu, Bank Sentral telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis point (bps) dari 5,75% menjadi 6%. 

"Rapat Dewan Gubernur [RDG] Bank Indonesia pada 22 dan 23 November 2023 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate [BI7DRR] sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility tetap sebesar 6,75%," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.

Keputusan ini sebagai bentuk upaya BI dalam mengendalikan nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global dan sejalan dengan sikap The Fed yang belum mempertimbangkan pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Sejalan dengan itu, Valdy merekomendasikan beberapa saham untuk perdagangan besok, di antaranya BBRI, MNCN, SCMA, AKRA, MAPI, BDMN dan ASSA.

Prediksi Pasar

Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas ChangKun Shin menjelaskan saat ini pasar telah memperkirakan BI masih akan menahan suku bunga. Menurut Shin, aksi BI mempertahankan suku bunga ini tidak akan berdampak terlalu signifikan ke pasar modal.

"Dampak keputusan BI terhadap market bisa positif jika BI menurunkan suku bunga," kata Shin, Kamis (23/11/2023).

Dia menjelaskan, peluang bagi BI untuk menurunkan suku bunga akan datang ketika kondisi penguatan rupiah berlanjut dan kembali di bawah level Rp15.400.

Menurutnya, kenaikan suku bunga sebelumnya berhasil membuat rupiah menguat dari level tertingginya yang sempat berada di level Rp15.900. Saat ini, kata Shin, rupiah berada di Rp15.565.

Adapun Kiwoom Sekuritas melihat investor dapat mencermati sektor keuangan, konsumer non-cyclical, dan saham-saham defensif ketika kondisi suku bunga tinggi.

Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan IHSG tidak akan terlalu terdampak oleh keputusan BI kali ini karena pelaku pasar dan investor meyakini suku bunga tidak akan berubah sampai tahun depan. 

"Tetapi akan beda cerita kalau misalnya The Fed sudah enggak sabar. Kalau inflasi tidak turun, mereka [The Fed] akan menaikkan suku bunga," ujar Nico, dihubungi Kamis (23/11/2023). 

Dengan hal tersebut, apabila inflasi di Amerika Serikat tidak turun, terdapat kemungkinan The Fed akan menaikkan tingkat suku bunga satu kali lagi agar inflasi turun. 

Nico melihat dampak dari keputusan tersebut secara jangka pendek akan menjadi negatif terhadap pasar modal, tetapi secara jangka panjang akan positif karena amunisi The Fed untuk mendorong turun inflasi telah habis. 

Adapun sentimen IHSG ke depan menurutnya akan datang dari data pekerjaan dan data inflasi, sebelum The Fed melakukan pertemuan. 

Sentimen kedua, adalah masa kampanye pemilu yang dimulai pada 28 November. Nico meyakini hal ini akan menjadi sentimen yang baik bagi pasar. 

Sentimen ketiga, adalah kinerja emiten di kuartal III/2023. Dengan kinerja tersebut, tidak menutup kemungkinan terjadinya window dressing di akhir tahun. 

Untuk sektor saham pilihan, Nico memilih sektor perbankan,serta  consumer goods dengan top picks saham ICBP, INDF, dan AMRT. 

_____________________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper