Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat ke Rp15.375

Mata uang rupiah ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (21/9/2023) seiring dengan putusan BI menahan suku bunga acuan.
Mata uang rupiah ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (21/9/2023) seiring dengan putusan BI menahan suku bunga acuan. Bisnis/Suselo Jati
Mata uang rupiah ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (21/9/2023) seiring dengan putusan BI menahan suku bunga acuan. Bisnis/Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (21/9/2023) sementara itu indeks dolar melambung 0,29 persen. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,04 persen atau 6,5 poin ke posisi Rp15.375 per dolar AS. 

Mata uang kawasan Asia lainnya juga bergerak bervariasi pada perdagangan hari ini. Yen Jepang menguat 0,10 persen, dolar Hong Kong menguat 0,04 persen, dan bath Thailand menguat 0,13 persen.

Sementara itu, mata uang yang melemah di hadapan dolar AS adalah dolar Singapura sebesar 0,14 persen, won Korea melemah 0,73 persen, rupee India 0,07 persen, yuan China melemah 0,24 persen dan peso Filipina melemah 0,10 persen. 

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar merespon positif tentang laporan Pemerintah tentang penerimaan pajak negara sampai dengan Agustus 2023 mencapai Rp1.246,97 triliun atau 72,58 persen dari target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2023. Hal tersebut sesuai dengan target pemerintah dalam penerimaan pajak.

Jumlah penerimaan pajak negara itu berasal dari PPh Non Migas sebesar Rp708,23 triliun, naik 7,06 persen atau mencapai 81,07 persen dari target APBN, PPN dan PPnBM sebesar Rp447,58 triliun atau naik 8,14 persen atau 64,28 persen dari target APBN.

Kemudian, PBB dan pajak lainnya sebesar Rp11,64 triliun, turun -12,01 persen atau 29,10 persen dari target APBN dan PPh Migas sebesar Rp49,51 triliun, turun -10,58 persen atau 80,59 persen dari target APBN.

Ke depannya kinerja penerimaan pajak akan melambat dibandingkan tahun sebelumnya terutama disebabkan penurunan signifikan harga komoditas, penurunan nilai impor, dan tidak berulangnya kebijakan PPS. Lebih lanjut, dari sisi jenis pajak seluruh jenis pajak masih tumbuh positif dengan dinamika periodik yang bervariasi.

Secara rinci, PPh 21 tumbuh 17,4 persen sejalan dengan utilisasi tenaga kerja dan tingkat upah yang baik. Kemudian, PPh OP tumbuh 2,2 persen dan PPh Badan tumbuh 23,2 persen, PPh 26 tumbuh 25,3 persen, PPN DN tumbuh 15,5 persen. Sedangkan, terjadi kontraksi pada PPh 22 impor sebesar -6,0 persen, PPh Final terkontraksi -39,4 persen, dan PPN Impor sebesar -4,7 persen.

Sementara itu dari luar negeri, The Fed memperkirakan suku bunga akan lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama dan pemotongan yang lebih sedikit pada tahun 2024 Bank sentral mempertahankan suku bunga stabil pada kisaran 5,25 persen - 5,50 persen pada hari Rabu, seperti yang diperkirakan secara luas. 

Sementara itu, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah besok akan berfluktuatif namun ditutup menguat tipis direntang  Rp15.350- Rp15.410.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan atau BI-7 Days Repo Rate (BI7DRR) di level 5,75 persen, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 20-21 September 2023. Suku bunga acuan BI bertahan di level 5,75 persen selama delapan bulan beruntun atau sejak Januari 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper