Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Loyo ke Rp15.392 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke Rp15.392 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (21/9/2023) usai The Fed resmi mengumumkan tetap menahan suku bunga.
Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer, Jakarta, Sabtu (30/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer, Jakarta, Sabtu (30/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (21/9/2023) setelah The Fed resmi mengumumkan tetap menahan suku bunga dan kemungkinan kenaikan sekali lagi di akhir tahun. 

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, mata uang rupiah dibuka melemah 0,07 persen atau 11 poin ke posisi Rp15.392 di hadapan dolar AS. Sementara itu indeks dolar justru terpantau menguat  0,18 persen ke level 105,222 

Adapun sejumlah mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi per dolar AS. Yen Jepang melemah 0,01 persen, dolar Singapura turun 0,16 persen, won Korea jatuh 0,65 persen, peso Filipina melemah 0,23 persen, yuan China turun 0,17 persen, bath Thailand jatuh 0,26 persen dan ringgit Malaysia turun 0,13 persen. 

Sementara itu mata uang yang menguat di hadapan dolar AS adalah rupee India naik 0,23 persen.  

Sebelumnya Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp15.360 - Rp15.430.

The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 19-20 September 2023 waktu setempat. The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 5,25 persen—5,50 persen sambil tetap mempertahankan sikap hawkish. 

Para petinggi otoritas moneter Paman Sam tersebut pun memproyeksikan kenaikan suku bunga akan kembali terjadi pada akhir tahun, dengan mencapai level 5,50 persen—5,75 persen.  

Ibrahim mengatakan di sisi lain inflasi Inggris secara tak terduga turun pada bulan Agustus, meningkatkan kemungkinan bahwa Bank of England akan menunda siklus kenaikan suku bunga yang berkepanjangan dalam waktu dekat. Angka utama CPI turun menjadi 6,7 persen pada bulan Agustus, dari 6,8 persen pada bulan Juli, bertentangan dengan ekspektasi kenaikan menjadi 7,0 persen, didorong oleh penurunan harga hotel dan tarif penerbangan, dan kenaikan harga pangan kurang dari pada waktu yang sama tahun lalu. 

Pasar terus memantau perkembangan perlambatan ekonomi global mulai berdampak terhadap Indonesia, terutama pada ekspor. Tercatat pada Agustus 2023 ekspor RI terkontraksi -21,21 persen secara tahunan (yoy) atau senilai US$22,00 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, terutama didorong oleh penurunan ekspor semua sektor.

Secara kumulatif, ekspor periode Januari – Agustus 2023 mencapai US$171,52 miliar. Penurunan kinerja ekspor tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi di banyak negara, akibat melemahnya aktivitas ekonomi dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper