Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Ditutup Beragam setelah Inflasi AS Naik Jadi 3,7 Persen

Wall Street ditutup beragam setelah rilis data inflasi AS memperkuat spekulasi bahwa The Fed berpeluang menghentikan kenaikan suku bunga.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street, New York ditutup beragam pada akhir perdagangan Rabu (13/9/2023) waktu setempat, setelah rilis data inflasi AS memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral Federal Reserve berpotensi menghentikan kenaikan suku bunga, namun menahan diri untuk mengakhiri siklus pengetatan moneter.

Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (14/9/2023), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,20 persen atau 70,46 poin ke 34.575,53, S&P 500 menguat 0,12 persen atau 5,54 poin ke 4.467,44, dan Nasdaq naik 0,29 persen atau 39,97 poin ke 13.813,59.

Saham American Airlines Group Inc. memimpin kerugian di sektor industri setelah memangkas prospek pendapatannya di tengah lonjakan harga bahan bakar jet.

Sebagian besar saham perusahaan berkapitalisasi pasar jumbo naik, dengan lima CEO dari 10 perusahaan terbesar AS hadir pada pertemuan tertutup Senat untuk menentukan bagaimana kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diatur. Saham Apple Inc. jatuh karena Tiongkok menandai adanya masalah keamanan pada iPhone.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun turun di bawah 5 persen. Greenback melemah. Pasar berjangka yang terkait dengan dua pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berikutnya terus memperhitungkan kecilnya peluang kenaikan suku bunga pada minggu depan, dan sekitar 50 persen kemungkinan kenaikan suku bunga akan terjadi pada bulan November 2023.

Amerika mencatatkan inflasi sebesar 3,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Agustus 2023, naik dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 3,2 persen YoY.

Berdasarkan data yang dirilis Biro Statistik Ketenagakerjaan AS, kenaikan inflasi tersebut menjadi yang kedua kali dalam setahun terakhir, setelah dalam 12 bulan berturut-turut mencatatkan penurunan indeks harga konsumen (IHK).

Sementara itu, indeks harga konsumen inti, yang tidak termasuk biaya pangan dan energi, naik 0,3 persen dari bulan Juli, akselerasi pertama dalam enam bulan. Dari tahun lalu, angka tersebut meningkat 4,3 persen.

Inflasi inti AS dinilai sejalan dengan perkiraan dan menandai kemajuan terkecil dalam hampir dua tahun. Angka ini masih di atas target The Fed sebesar 2 persen.

Menurut CEO Evercore ISI Krishna Guha, meskipun laporan inflasi AS ini tidak terlalu bagus dalam hal kebijakan, laporan ini juga bukan sebuah bencana.

“Bukan laporan CPI yang bagus, tapi bukan sesuatu yang mengubah pandangan dasar The Fed. The Fed tidak ingin menaikkan suku bunga lagi dan kami pikir akan diperlukan upaya yang lebih signifikan untuk mendorong FOMC agar benar-benar menaikkan suku bunga lagi,” kata Guha, mengutip Bloomberg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper