Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Ambrol, Catat Penurunan Terburuk Sejak Maret 2020

Bursa saham AS juga membukukan pelemahan selama tiga kuartal berturut-turut.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 01 Oktober 2022  |  06:11 WIB
Wall Street Ambrol, Catat Penurunan Terburuk Sejak Maret 2020
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat. - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat anjlok pada akhir perdagangan Jumat (30/9/2022), sekaligus mengakhiri September dengan penurunan bulanan terburuk sejak Maret 2020.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 1,71 persen ke level 28.725,51, sedangkan indeks S&P 500 anjlok 1,51 persen ke 3.585,62 dan Nasdaq Composite juga merosot 1,51 persen ke 10.575,62.

Sepanjang bulan lalu, pasar saham berulang kali terpukul oleh keputusan Federal Reserve untuk terus menaikkan suku bunga hingga inflasi terkendali.

Wall Street juga membukukan pelemahan selama tiga kuartal berturut-turut. Ini pertama kalinya terjadi sejak sejak 2009. Imbal hasil obligasi Treasury AS menguat, dengan imbal hasil tenor 10 tahun mencapai 3,82 persen.

Wakil Gubernur The Fed Lael Brainard secara singkat meredakan kekhawatiran pada hari Jumat setelah dia mengakui perlunya memantau dampak kenaikan suku bunga terhadap stabilitas pasar global.

Namun pasar saham terus tertekan setelah investor mencerna data konsumsi pribadi yang kuat. Data ini menjadi salah satu pengukur inflasi AS yang menjadi preferensi The Fed.

Aset berisiko terus tertekan sejak The Fed memutuskan kenaikan suku bunga acuan pekan lalu ke level 3,25 persen dan mengungkapkan rencana kenaikan lebih lanjut.

Pasar Inggris menambah tekanan pekan ini setelah pemerintah mengumumkan pemotongan pajak yang mengancam untuk memperburuk tekanan inflasi. Bank of England berusaha untuk mengelola kekacauan yang terjadi dengan melakukan intervensi.

Investor sekarang menunggu data tenaga kerja pekan depan untuk petunjuk lebih lanjut tentang laju kenaikan suku bunga Fed. Data inflasi dan PDB juga akan memberikan perincian tentang apakah tekanan harga berkurang secara berarti.

Fokus investor juga akan tertuju pada musim laporan pendapatan yang dimulai bulan depan, sebagai wawasan mengenai bagaimana perusahaan bertahan melalui berbagai hambatan, yang mencakup penguatan dolar AS, kenaikan biaya, dan penurunan permintaan. Kekhawatiran akan resesi global masih meningkat karena ancaman tingkat suku bunga yang lebih tinggi melemahkan pertumbuhan.

"Investor bersemangat dan gugup untuk menyadari bagaimana bank sentral global bersikan dovish atau hawkish karena kondisi keuangan dan suku bunga melemahkan kinerja ekonomi dan mengancam stabilitas keuangan," kata ekonom senior Interactive Brokers José Torres.

Ketegangan geopolitik juga terus membara setelah Vladimir Putin bersumpah bahwa pencaplokan empat wilayah Ukraina tidak dapat diubah. Sementara itu, Presiden Joe Biden menyatakan bahwa kebocoran sistem pipa gas Nord Stream di Laut Baltik adalah tindakan yang disengaja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street dow jones indeks S&P 500 nasdaq the fed Kebijakan The Fed
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top