Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Produk Reksa Dana Ini Masih Volatil Sampai Bulan Depan, Simak!

Kinerja reksa dana pendapatan tetap berbasis obligasi masih berpotensi menurun seiring dengan isu hawkish The Fed dan respon dari Bank Indonesia di bulan depan.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo aat konferensi pers penutupan Finance Minister and Central Bank Governors (FMCBG) G20 Nusa Dua, Bali pada Sabtu (16/7/2022)/Antara
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo aat konferensi pers penutupan Finance Minister and Central Bank Governors (FMCBG) G20 Nusa Dua, Bali pada Sabtu (16/7/2022)/Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja reksa dana pendapatan tetap berbasis obligasi masih berpotensi menurun seiring dengan isu hawkish The Fed dan respon dari Bank Indonesia di bulan depan.

Laporan dari Infovesta Utama pada Senin (1/8/2022) menyebutkan, pasar obligasi mulai kembali menarik di mata investor. Dalam sepekan belakangan, investor mulai mencari Surat Berharga Negara (SBN) karena yield yang kembali atraktif di kisaran level 7,4 persen.

“Kondisi ini didorong oleh kekhawatiran investor akibat kondisi global yang volatil, yaitu inflasi yang masih tinggi, pengetatan kebijakan moneter, dan invasi Rusia-Ukraina. Hal ini membuat SBN dipandang sebagai aset safe haven,” demikian kutipan laporan tersebut.

Meskipun kinerja pasar saham dan obligasi dalam sepekan terakhir positif, namun sejalan dengan situasi kondisi pasar saat ini yang fluktuatif, investor sebaiknya tetap waspada terhadap perkembangan kondisi global terkini.

Untuk investor reksa dana pendapatan tetap, Infovesta menyarankan pemilik dana berinvestasi di reksa dana berbasis SBN karena yield masih atraktif. Meski demikian, investor disarankan untuk tidak melakukan penempatan secara penuh dalam berinvestasi, namun masuk secara bertahap dan tetap memegang sebagian porsi cash.

Infovesta menyebutkan, strategi ini tepat dilakukan di tengah kondisi pasar yang masih volatil dan kemungkinan untuk pasar SBN kembali turun masih cukup terbuka.

“Kami menyarankan investor agar tetap waspada terhadap isu hawkish the Fed bulan depan serta arah kebijakan BI bulan depan terhadap kenaikan suku bunga yang akan mempengaruhi pergerakan pasar obligasi,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper