Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Minyak Turun Dipicu Profit Taking, tapi Reli Harga Masih Bisa Terjadi

Cuaca musim dingin di sebagian besar Amerika Serikat diperkirakan lebih hangat dari rata-rata, menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional yang dirilis Kamis (21/10/2021) pagi.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 Oktober 2021  |  06:45 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak jatuh pada akhir perdagangan Kamis (21/10/2021) waktu Amerika Serikat (AS) karena aksi ambil untung setelah perkiraan untuk musim dingin AS yang hangat mengerem reli.

Sebelumnya harga minyak sempat naik ke level tertinggi tiga tahun di atas US$86 per barel di awal sesi karena ketatnya pasokan dan krisis energi global.

Mengutip Antara, Jumat (22/10/2021), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember terpangkas US$1,21 menjadi menetap di US$84,61 per barel, setelah mencapai tertinggi sesi di US$86,10, tertinggi sejak Oktober 2018.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember turun 92 sen menjadi ditutup di US$82,50 per barel. Kontrak November berakhir Rabu (20/10/2021) di level tertinggi tujuh tahun.

Cuaca musim dingin di sebagian besar Amerika Serikat diperkirakan lebih hangat dari rata-rata, menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional yang dirilis Kamis (21/10/2021) pagi.

"Laporan tersebut, yang menunjukkan kondisi yang lebih kering dan lebih hangat di seluruh AS bagian selatan dan timur, memberikan tekanan pada harga minyak," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.

Harga telah reli pada Rabu (20/10/2021) ketika Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah dan bahan bakar yang lebih ketat, dengan stok minyak mentah di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma jatuh ke level terendah tiga tahun.

"Pedagang yang telah menetapkan 86 dolar AS sebagai ambang penjualan mereka mengambil kesempatan untuk mengantongi beberapa keuntungan," kata Louise Dickson dari Rystad Energy. "Akibatnya, harga minyak turun."

Harga Brent telah meningkat lebih dari 60 persen tahun ini, didukung oleh peningkatan pasokan yang lambat oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya yang dikenal secara kolektif sebagai OPEC+. Kenaikan juga dipicu krisis batu bara dan gas global yang telah mendorong pembangkit listrik beralih ke minyak.

Minyak juga mendapat tekanan dari penurunan harga batu bara dan gas alam. Di China, batu bara turun 11 persen, memperpanjang kerugian minggu ini sejak Beijing mengisyaratkan akan melakukan intervensi untuk mendinginkan pasar.

"Dengan penurunan harga batu bara dan gas serta dengan indikator teknis indeks kekuatan relatif masih di wilayah overbought, kemungkinan penurunan tajam, tetapi harga minyak naik," kata Jeffrey Halley, analis di broker OANDA.

Namun, beberapa analis menyatakan minyak akan reli lebih lanjut karena OPEC+ kemungkinan akan tetap pada rencananya untuk peningkatan produksi bertahap sementara permintaan diperkirakan akan mencapai tingkat pra-pandemi.

Rystad mengatakan prospeknya bullish untuk sisa tahun ini dan Giovanni Staunovo dari bank Swiss UBS mengatakan dalam sebuah laporan bahwa dia memperkirakan Brent akan diperdagangkan pada US$90 pada Desember 2021 dan Maret 2022.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga minyak mentah harga minyak brent harga minyak mentah wti

Sumber : Antara

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top