Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Sukuk Stabil, Reksa Dana Pendapatan Tetap Syariah Propektif Tahun Ini

NAB reksa dana pendapatan tetap syariah berada di posisi Rp5,61 triliun per 23 Desember 2020, turun 7,88 persen dibandingkan pencapaian NAB pada 2019 sebesar Rp6,09 triliun.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 17 Januari 2021  |  17:37 WIB
Ilustrasi Sukuk Ritel SR13 - Instagram @djpprkemenkau
Ilustrasi Sukuk Ritel SR13 - Instagram @djpprkemenkau

Bisnis.com, JAKARTA – Reksa dana pendapatan tetap syariah diyakini prospektif pada tahun ini. Pertumbuhan nilai aktiva bersih (NAB) jenis tersebut diyakini pulih setelah terkoreksi pada 2020.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NAB reksa dana pendapatan tetap syariah berada di posisi Rp5,61 triliun per 23 Desember 2020, turun 7,88 persen dibandingkan pencapaian NAB pada 2019 sebesar Rp6,09 triliun.

Adapun, pertumbuhan itu lebih rendah dibandingkan dengan jenis reksa dana sukuk yang berhasil mencetak kenaikan hingga 69,9 persen menjadi sebesar Rp1,75 triliun per 23 Desember 2020, dari Rp1,03 triliun pada 2019.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan bahwa prospek reksa dana pendapatan tetap syariah baik pada tahun ini, yang diharapkan dapat mendorong nilai Asset Under Management (AUM) industri juga bertumbuh.

Prospek lebih cerah jenis reksa dana itu seiring dengan harga sukuk yang lebih stabil dan didukung tingkat inflasi yang rendah sehingga return real diyakini masih akan tinggi.

“Apalagi, bila dibandingkan dengan semisal deposito syariah yang imbal hasilnya lebih rendah,” ujar Farash kepada Bisnis, Jumat (15/1/2021).

Secara terpisah, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan bahwa secara umum prospek pertumbuhan reksa dana pendapatan tetap syariah masih akan positif, sama dengan reksa dana pendapatan tetap konvensional.

Pertumbuhan kedua jenis tersebut tahun ini diyakini berada di kisaran 5 hingga 8 persen seiring dengan tren suku bunga yang rendah.

Namun, pertumbuhan lebih agresif dinilai masih akan relatif sulit karena ruang penurunan suku bunga mungkin tersisa satu kali lagi dalam tahun ini. Adapun, posisi suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) berada di posisi 3,75 persen.

“Selain itu, reksa dana pendapatan tetap syariah relatif sulit juga karena minimnya pasokan obligasi syariah,” papar Rudiyanto kepada Bisnis, Jumat (15/1/2021).

Adapun, saat ini produk reksa dana syariah yang tersedia di Panin Asset Management adalah reksa dana campuran dan syariah. Rudiyanto menjelaskan untuk reksa dana campuran syariah pihaknya menggunakan underlying sukuk negara saja akibat keterbatasan sukuk korporasi di pasar.

Di sisi lain, berdasarkan data OJK, emisi sukuk oleh korporasi sepanjang 2020 hanya sebesar Rp7,09 triliun, turun 43,59 persen dibandingkan dengan emisi sukuk korporasi 2019 sebesar Rp12,57 triliun.

Selain itu, perolehan itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan total emisi obligasi korporasi konvensional sebesar Rp84,27 triliun pada 2020.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sukuk reksa dana reksa dana syariah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top