Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham ANTM dan PGAS Amblas, IHSG Kembali Tertekan

IHSG parkir di zona merah dengan koreksi 2,96 persen ke level 5.612,415 pada akhir sesi perdagangan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 November 2020  |  15:19 WIB
Karyawan beraktifitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020). - Bisnis/Himawan L Nugraha
Karyawan beraktifitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020). - Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan kembali tertekan pada perdagangan Senin (30/11/2020).

Indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif sejak awal perdagangan. Sempat menguat dan masuk ke teritori 5.798,292, tetapi pergerakan terus menurun memasuki pukul 10.00 WIB.

Laju IHSG kian tertekan pada sesi kedua. Hanya dalam waktu 30 menit indeks terjun dari level 5.700-an hingga ke level 5.500-an. Indeks pun bertahan di zona merah sampai dengan akhir sesi perdagangan.

IHSG parkir di zona merah dengan koreksi 2,96 persen ke level 5.612,415 pada akhir sesi perdagangan. Sebanyak 112 saham menguat, 405 terkoreksi, dan 115 stagnan.

Saham-saham BUMN kompak terkoreksi dengan pelemahan dipimpin oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang turun 6,91 persen ke level Rp1.145 per saham dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) yang terkoreksi 6,71 persen ke level Rp1.390.

Adapun, investor asing tercatat mengobral saham-saham emiten dalam negeri. Net sell atau jual bersih hingga jelang sesi penutupan mencapai Rp2,56 triliun.

Lagi-lagi, saham BUMN menjadi incaran utama investor asing, yaitu TLKM dengan net sell Rp430,5 miliar. Kemudian, BBCA mengekor dengan net sell Rp417,1 miliar.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa saat ini terjadi panic selling di pasar modal dalam negeri seiring dengan perkembangan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

“Kekhawatiran terkait dengan kenaikan kasus Covid-19 khususnya yang terjadi di tanah air menyebabkan aksi panic selling terjadi,” ujar Nafan kepada Bisnis, Senin (30/11/2020).

Nafan pun menjelaskan bahwa pasar juga khawatir penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) kembali terjadi di tanah air.

Di sisi lain, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Rapat terbatas (ratas) yang digelar hari ini menyampaikan bahwa tren kasus Covid-19 selama sepekan terakhir memburuk jika dibandingkan pekan sebelumnya.

Jokowi menyampaikan bahwa angka kasus aktif nasional pada pekan ini menyentuh angka 13,41 persen. Meskipun masih di bawah angka kasus aktif dunia, tapi Jokowi meyatakan angkanya memburuk jika dibandingkan pekan sebelumnya.

Presiden Jokowi menyoroti kasus Covid-19 di Jawa Tengah dan DKI Jakarta yang mencatat peningkatan drastis dalam beberapa hari terakhir. Presiden pun memerintahkan adanya perhatian khusus dalam penanganan Covid-19 di kedua provinsi tersebut.

Sementara itu, Analis PT Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan bahwa pasar telah naik sejak awal November tanpa kemunduran yang signifikan, sehingga koreksi yang terjadi pada IHSG kali ini merupakan koreksi yang sehat.

“Saya sudah melihat ini akan terjadi karena IHSG telah mencapai target saluran paralel di 5.650 tetapi entah bagaimana masih berhasil berjalan beberapa langkah di atas hingga 5.800,” ujar Liza kepada Bisnis, Senin (30/11/2020.

Liza menjelaskan bahwa penutupan di bawah level 5.650 akan membawa IHSG ke support di 5.500. Oleh karena itu, Liza merekomendasikan investor untuk hold sementara sebelum mulai mengumpulkan lagi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top