Multi Agro Gemilang Plantation (MAGP) Cari Dana Rp200 Miliar

Emiten perkebunan PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk. (MAGP) berencana mencari pendanaan senilai Rp200 miliar untuk keperluan belanja modal.
Hafiyyan | 06 Agustus 2018 21:36 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman
Bisnis.com, JAKARTA-Emiten perkebunan PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk. (MAGP) berencana mencari pendanaan senilai Rp200 miliar untuk keperluan belanja modal.
 
Direktur Keuangan Multi Agro Gemilang Plantation Ari Wintarto menyampaikan, perseroan membutuhkan belanja modal senilai Rp200 miliar. Dana tersebut digunakan untuk mengoptimalkan pabrik kelapa sawit (PKS) di Aceh, merehabilitasi infrastruktur, dan melakukan revitalisasi tanaman.
 
“Perusahaan masih dalam proses mencari sumber pendanaan dari lembaga keuangan maupun investor strategis. Kami mencari sumber yang terbaik,” tuturnya setelah paparan publik, Senin (6/8/2018).
 
Sejak tahun lalu, perusahaan tidak banyak ekspansi karena membutuhkan pendanaan. Alhasil anggaran belanja modal pada 2017 belum ada.
 
Saat ini, perseroan akan fokus mengembangkan aset di Aceh berupa perkebunan seluas 1.708 hektare dan PKS berkapasitas 45 ton per jam. PKS yang beroperasi sejak 2013 ini utilisasinya masih di bawah 10%.
 
Pasalnya, perseroan tidak memiliki dana untuk membeli Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan masyarakat. Bila dana capex sudah didapatkan, MAGP dapat membeli TBS eksternal sembari membenahi area perkebunan milik sendiri.
 
“Kami ini ibarat mobil yang kurang bensin. Mobilnya, dalam hal ini alatnya ialah PKS sudah ada. Namun, bensinnya atau bahan bakarnya yaitu TBS, sulit diakses karena perlu dana,” imbuhnya.
 
Jika pasokan TBS lancar, perseroan berencana memacu pengolahan bahan baku CPO dan minyak kernel itu sebanyak 300 ton per hari. Dengan demikian, MAGP mendapatkan marjin penjualan yang lebih tinggi dibandingkan hanya menjual TBS.
 
Untuk menjaga arus kas, perusahaan juga melakukan trading CPO. Artinya, MAGP membeli CPO dari perusahaan dan menjualnya kembali kepada pengepul. Namun, marjin pendapatan terbilang tipis. 
 
Adapun, rehabilitasi perkebunan dapat memakan waktu 2-3 tahun. Setelah itu, tanaman menghasilkan akan kembali ke level normal, sehingga MAGP dapat memaksimalkan perolehan TBS dari kebun sendiri.
 
"Setelah aset di Aceh diperbaiki, selanjutnya kami akan membenahi perkebunan di Kalimantan," tambahnya.
Tag : kinerja emiten, magp
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top