Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Dibuka Menguat, Saham BBCA, TLKM, hingga BRMS ke Zona Hijau

IHSG dibuka di zona hijau pada perdagangan hari ini, Rabu (26/2/2025).
Pengunjung beraktivitas di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (13/1/2025)./IBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung beraktivitas di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (13/1/2025)./IBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan hari ini, Rabu (26/2/2025). Saham BBCA, TLKM, hingga BRMS naik ke zona hijau pagi ini.

Berdasarkan data RTI Infokom, pada pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka stagnan pada posisi 6.587,08 dan bergerak ke zona hijau sesaat setelahnya. IHSG sempat bergerak di rentang 6.627-6.652 sesaat setelah pembukaan.

Tercatat, 198 saham menguat, 100 saham melemah, dan 196 saham bergerak di tempat. Kapitalisasi pasar terpantau menjadi Rp11.521 triliun.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) terpantau menjadi saham yang paling aktif diperdagangkan, yakni senilai Rp89,3 miliar. Saham BBCA tercatat menguat 0,28% ke level Rp8.850.

Saham lain yang terpantau paling aktif diperdagangkan adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) senilai Rp54,9 miliar dengan saham yang dibuka naik 0,41% ke level Rp4.890.

Adapun saham lain yang juga menguat adalah saham WIFI yang naik 4,98% ke level Rp2.320, saham BREN menguat 1,63% ke level Rp6.225, saham TLKM naik 2,03% ke level Rp2.510, dan saham BRMS yang naik 1,49% ke level Rp410 per saham.

Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan dari eksternal, rencana implementasi paket tarif oleh AS dan antisipasi hasil FOMC pada 18-19 Maret 2025 mendatang menjadi fokus utama pelaku pasar.

Wall Street dibayangi oleh konfirmasi Presiden AS, Donald Trump bahwa implementasi tarif untuk Kanada dan Meksiko tetap sesuai jadwal, yaitu 4 Maret 2025.

Pernyataan di atas membangun spekulasi jika Trump juga akan tetap mendorong implementasi tarif resiprokal. Pasalnya, Kanada dan Meksiko yang dinilai sebagai close trading partners dari AS tetap dikenakan tarif yang cukup signifikan. 

Sementara itu, dari dalam negeri, isu terkait pendirian Danantara masih direspons beragam oleh pelaku pasar secara umum.

Pasar masih dipengaruhi oleh isu-isu negatif yang berkembang mengenai pengelolaan dan kinerja Sovereign Wealth Fund (SWF) di beberapa negara tetangga.

Nampaknya diperlukan sosialisasi yang lebih masif baik dari Pemerintah maupun Badan Pengelola Investasi (BPI) kepada pelaku pasar untuk meredam kekhawatiran-kekhawatiran tersebut.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper