Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Meneropong Nasib Rupiah di Antara Joe Biden, Donald Trump, & Kamala Harris

Ramalan nasib pergerakan nilai tukar rupiah di bawah bayang-bayang Joe Biden, Donald Trump, dan Kamala Harris.
Karyawan menata uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menata uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Nasib pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak terlepas dari sentimen eksternal khususnya hasil Pemilu AS 2024 antara Joe Biden, Donald Trump, dan Kamala Harris.

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mengatakan pasar tampaknya masih akan wait and see apakah nantinya hanya akan ada satu calon tunggal yaitu Donald Trump saja, atau Wakil Presiden Biden, Kamala Harris yang akan maju sebagai capres AS.

Dia menilai pelaku pasar akan mempertimbangkan bila Trump yang akan menjadi presiden di periode keduanya maka kebijakan proteksionisme akan kembali terjadi.

"Dimungkinkan perang dagang terutama dengan China akan kembali terjadi. Kecuali jika nantinya Trump memiliki kebijakan yang lebih akomodatif, maka bisa berbeda nanti skenarionya," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (23/7/2024).

Lebih lanjut, Reza mengatakan hal itu membawa dampak bagi ekonomi global yang juga akan mempengaruhi ekonomi Indonesia, terutama dari pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar AS. Di sisi lain, investor juga perlu memperhatikan imbas perang dagang, jika kembali terjadi, terhadap ekonomi Indonesia nantinya.

"Bagi pelaku pasar saat ini, oleh karena kebijakan yang diusung masih sebatas wacana, maka sebaiknya pelaku pasar saat ini bisa fokus terlebih dahulu ke kinerja emiten dalam negeri dan dapat memanfaatkan sentimen yang ada untuk melakukan transaksi atau trading di saham-saham yang volume perdagangannya sedang ramai,” jelasnya.

Senada, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan sentimen risk-off muncul secara global setelah secara tiba-tiba Presiden AS Joe Biden mengumumkan bahwa tidak akan melanjutkan pencalonan dirinya sebagai presiden pada Pemilu 2024, sehingga memantik ketidakpastian tinggi.

Dia mengatakan, sentimen risk-off terus meningkat setelah bank sentral China, PBoC memutuskan untuk menurunkan suku bunga kebijakan pada sesi pertama pasar Asia. PBoC menurunkan suku bunga acuan 1 tahun dan 5 tahun sebesar 10 bps menjadi 3,35% dan 3,85%.

"Langkah dari PBoC ini meredakan kekhawatiran investor akan terhambatnya pemulihan ekonomi China. Kedua sentimen dari AS dan China tersebut memicu pelemahan rupiah pada Senin [22/7]. Rupiah melemah sebesar 0,19% menjadi Rp16.220 per dolar AS,” ujarnya.

Menurutnya, sekalipun terdapat risiko politik AS, namun investor global akan lebih mencermati arah suku bunga bank sentral global terutama The Fed yang diperkirakan akan memiliki ruang penurunan yang lebih besar pada 2025 mendatang.

Sejauh ini, The Fed masih menahan suku bunga di kisaran 5,25%-5,5%, dan hanya mengisyaratkan satu kali pemangkasan tahun ini. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) masih menahan suku bunga di level 6,25%. 

"Pada umumnya, di tengah penurunan suku bunga The Fed yang juga akan diikuti oleh penurunan suku bunga acuan BI, terdapat ekspektasi pelemahan dolar AS yang berimplikasi pada potensi penguatan harga aset keuangan negara berkembang termasuk Indonesia," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper