Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tridomain (TDPM) Putar Otak Perbaiki Kinerja, Antara PKPU & Penambahan Modal

Tridomain Performance Materials (TDPM) terjegal persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rangka penambahan modal entitas anak usaha.
Chief Operating Officer PT Tridomain Performance Materials Tbk Hendro Waskito (dari kanan) bersama Direktur Independen Bambang Heru Purwanto, dan Direktur Joyce Venancio Sobejana Onias,  menjawab pertanyaan di sela-sela paparan kinerja perseroan, di Jakarta, Rabu (8/8/2018)./JIBI-Endang Muchtar
Chief Operating Officer PT Tridomain Performance Materials Tbk Hendro Waskito (dari kanan) bersama Direktur Independen Bambang Heru Purwanto, dan Direktur Joyce Venancio Sobejana Onias, menjawab pertanyaan di sela-sela paparan kinerja perseroan, di Jakarta, Rabu (8/8/2018)./JIBI-Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten produsen bahan kimia PT Tridomain Performance Materials Tbk. (TDPM) terjegal persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rangka penambahan modal entitas anak usaha. Usaha perbaikan kinerja semakin terhambat, terlebih perdagangan saham disuspensi serta kewajiban pembayaran PKPU semakin berat saat kinerja operasional tidak maksimal. 

Presiden Direktur Tridomain Performance Materials Anton Hartono mengatakan rencana penambahan modal entitas anak usaha TDPM ditunda karena belum mendapatkan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

“Ketika kita submit ke OJK untuk minta approval, approval peningkatan modal itu. Belum di-approve sama OJK, jadi kita akan mengulang, ada yang harus diperbaiki,” katanya dalam paparan publik, Rabu (20/12/2023). 

Anton menjelaskan pihaknya akan menyusun ulang dan memperbaiki beberapa persyaratan peningkatan modal dan akan merencanakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk peningkatan modal tersebut. 

Rapat tersebut direncanakan akan menggunakan tahun buku September dan dilaksanakan sekitar Februari hingga Maret tahun depan. 

Seperti yang diketahui, TDPM hari ini menyelenggarakan RUPSLB, salah satu agendanya adalah Pemberian persetujuan kepada perseroan untuk mengambil bagian meningkatkan modal ditempatkan dan disetor dalam PT Tridomain Chemicals melalui konversi piutang. 

Sebagaimana diketahui, dalam prospektus yang diterbitkan TDPM bulan lalu, emiten produsen bahan kimia ini memiliki anak usaha yaitu TDC yang memiliki modal yang defisit. 

TDPM sebagai induk usaha berencana meningkatkan modal yang dimiliki oleh TDC melalui konversi piutang. Atas rencana transaksi tersebut akan menyebabkan kepemilikan saham TDPM di TDC meningkat menjadi 98,84% atau setara US$36,54 juta dari sebelumnya sebesar US$5,57 juta atau 92,84% dan mengakibatkan terdilusinya saham Gracco Asia Pasific Ltd.

Transaksi penambahan modal ini sebesar US$48 juta dolar atau setara dengan Rp744,57 miliar (kurs jisdor Rp15.512 per dolar AS). 

Di sisi lain, PKPU yang telah diputuskan tahun lalu masih harus dibebankan kepada TDPM. Jatuh tempo pembayaran PKPU tahun kedua yang berakhir pada 27 Desember mendatang disebut dapat diatasi dengan dana internal kas. 

Anton menjelaskan dana untuk pembayaran PKPU tahun kedua sebesar 2,5% dari initial pokok utang sudah disiapkan. 

“Pembayaran paling lambat Jumat besok dan saat ini, kita juga sudah siapkan dana hanya tinggal sedikit. Kita harapan Jumat bisa terselesaikan dan tercapai untuk pembayaran ketiga untuk tahun kedua,” kata Anton. 

Meski yakin dengan pembayaran PKPU tahun kedua, untuk tahun depan atau PKPU ketiga, TDPM sangat berharap EBITDA dari anak usaha. Anton mengklaim jika shareholders sudah berkomitmen untuk meningkatkan EBITDA untuk pembayaran PKPU. 

Peningkatan EBITDA Anak Usaha

TDPM mengklaim masih terdapat dua anak usaha lagi yang beroperasi. Meskipun kinerja operasional masih tidak maksimal, TDPM optimistis kapasitas produksi akan meningkat dua kali lipat tahun depan. 

Dua anak usaha yang menjadi harapan TDPM adalah Petrochemica dan Tridomain yang masih harus bekerja keras meningkatkan kapasitas produksi untuk membantu sang induk. 

Anton menjelaskan kapasitas produksi Tridomain saat ini berkisar 12 juta ton per tahun, namun hingga saat ini Tridomain hanya mampu menggunakan kapasitas tersebut sebanyak 4 juta ton per tahun, tidak sampai separuh dari kapasitas total. 

Anak usaha kedua, yaitu Petrochemica memiliki kapasitas produksi hingga 40 juta metrik ton per tahun. Sementara itu, kapasitas yang digunakan oleh Petrochemica hanya 25.000 ton per tahun, jauh dari kapasitas terpasang. 

Anton mengklaim perseroan akan meningkatkan kapasitas saat ini menjadi dua kali lipat tahun depan, artinya kapasitas produksi Tridomain akan menyentuh 8 juta ton per tahun dan Petrochemica sebesar 50.000 ton per tahun

Adapun kemampuan memenuhi produksi dua anak usaha disebut anjlok akibat beberapa faktor. Anton menjelaskan bahwa kapasitas produksi sempat hampir penuh pada 2020, namun anjlok saat klien utama yang berasal dari Australia tidak lagi menggunakan produk TDPM. 

“Jadi, kita kehilangan [kapasitas]. Pertama, karena customer yang tidak lagi menjadi client. Kedua, banyaknya produk China yang masuk ke kita sehingga harganya itu bersaing ketat,” imbuhnya. 

Persaingan pasar dan harga dengan produk impor kata Anton mempengaruhi volume penjualan. Alhasil, target TDPM memperluas pangsa pasar terlebih dahulu memprioritaskan kapasitas penuh guna dapat mendongkrak EBITDA. 

Sementara itu, untuk 2025 di mana MTN akan jatuh tempo dengan bunga 40%, TDPM harus memutar otak karena EBITDA tidak dapat diandalkan. 

“Jatuh tempo MTN dengan bunga 40% itu dari EBITDA gak cukup nanti di 2025 kita punya rencana lain, mungkin mengeluarkan saham baru atau yang lain, tapi itu masih rencana,” katanya. 

Kinerja Keuangan

Mengutip laporan keuangan terakhir perseroan yaitu tahun buku 2022, penjualan TDPM anjlok hingga 20,21% ke posisi US$63,48 juta atau setara Rp998,64 miliar (kurs Rp15.731) dibandingkan dengan periode tahun 2021 yang tercatat sebesar US$79,56 juta. 

Penjualan pasar domestik tercatat sebesar US$61,22 juta yang terdiri dari penjualan kepada pihak berelasi dan pihak ketiga. Sementara itu penjualan ekspor tercatat sebesar US$2,25 juta. Kedua segmen penjualan ini sama sama turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Sementara itu, beban pokok penjualan tercatat sebesar US$56,01 juta atau setara Rp881,15 miliar. Beban tersebut ikut turun sebesar 20,30% dibandingkan dengan periode tahun 2021 sebesar US$70,28 juta. 

Laba bersih tercatat sebesar US$7,4 juta atau turun tipis dibandingkan dengan 2021 yang tercatat sebesar US$9,27 juta. Sementara itu, rugi bersih ikut turun menjadi US$52,61 juta dari sebelumnya sebesar US$78,61 juta. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper