Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

ARB Simetris Berlaku Hari Ini, IHSG Bersiap Menguji Level 7.000

MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki peluang untuk menguat pada pekan ini dan menguji kembali resistance di level 7.000.
Pegawai beraktivitas di dekat layar yang menampilkan data saham di PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (26/7/2023). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai beraktivitas di dekat layar yang menampilkan data saham di PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (26/7/2023). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan kebijakan Auto Rejection Bawah (ARB) dan Auto Rejection Atas (ARA) simetris pada hari ini, Senin, 4 September 2023. Investor perlu berhati-hati sebab kebijakan ini dapat membuat saham-saham di rentang harga tertentu anjlok hingga 35 persen,

Berdasarkan peraturan Bursa, saham di rentang harga Rp50-Rp200 berlaku ARA 35 persen dan ARB 35 persen. Kemudian, saham dengan harga Rp200—Rp5.000 akan berlaku ARA 25 persen dan ARB 25 persen, serta saham dengan harga lebih dari Rp5.000 berlaku ARA 20 persen dan ARB 20 persen.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menilai kebijakan ARB simetris akan memberikan volatilitas yang lebih tinggi untuk pasar saham dibandingkan dengan sebelumnya. Dalam situasi itu, katanya investor akan lebih berhati-hati dalam memilih instrumen saham.

"Oleh sebab itu, hal ini akan membuat pelaku pasar dan investor akan jauh lebih berhati- hati, memilih, dan melakukan evaluasi terhadap saham yang akan dimasuki nanti," ujar Nico kepada Bisnis, dikutip Senin (4/9/2023).

Jelang penerapan kebijakan ARB simetris, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham pekan lalu terpantau di kisaran Rp10,35 triliun. Capaian RNTH itu pun masih di bawah target yang ditetapkan BEI sebesar Rp14,75 triliun pada 2023.

Adapun IHSG ditutup menguat sebesar 0,35 persen atau 24,39 poin ke level 6.977,65 pada akhir perdagangan pekan lalu, Jumat (1/9/2023).

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina menilai salah satu penyebab kenaikan IHSG pada Jumat dipicu ekspektasi atas dihentikannya kenaikan tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), Fed Rate.

Hal ini seiring dengan data pekerjaan yang mulai melambat. Selain itu, indikasi penurunan inflasi juga membuat pelaku pasar berspekulasi The Fed akan lebih melonggarkan kebijakan moneternya,” ujar Martha kepada Bisnis, Jumat (1/9/2023).

Oleh karena itu, dia menilai IHSG akan tetap melanjutkan penguatannya meski Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menerapkan kebijakan ARB-ARA simetris mulai hari ini.

"Untuk IHSG diperkirakan dapat melanjutkan penguatannya. Aturan ARB-ARA simetris diperkirakan tidak akan terlalu mempengaruhi pergerakan IHSG,” ucapnya.

Di sisi lain, Martha menilai net sell akan menjadi ancaman. Sebab, sepanjang Agustus 2023, investor asing cenderung melakukan penjualan dengan catatan lebih dari Rp2 triliun. Menurutnya, hal ini tak terlepas dari pernyataan The Fed yang akan menaikkan suku bunga.

Dihubungi terpisah, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana berpendapat bahwa penguatan IHSG pada akhir pekan lalu terjadi di tengah minimnya sentimen positif di global. Pasalnya, para investor masih mencermati ekonomi China dan kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed.

MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki peluang untuk menguat pada pekan ini dan menguji kembali resistance di level 7.000. Menurutnya, hal tersebut akan berjalan dengan catatan IHSG mampu bertahan di atas 6.924.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper