Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp15.300 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada hari ini, Selasa (15/8/2023), menembus Rp15.300 meski dolar Amerika Serikat (AS) juga mencatatkan pelemahan.
Karyawati menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (16/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (16/8/2022). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada hari ini, Selasa (15/8/2023), meski dolar Amerika Serikat (AS) juga mencatatkan pelemahan.  

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 26,50 poin atau 0,17 persen menuju level Rp15.341 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS turun 0,09 persen ke level 103,09.

Adapun mayoritas mata uang lain di kawasan Asia juga membukukan pelemahan. Yen Jepang, contohnya, melemah 0,14 persen terhadap dolar AS, sementara won Korea dan yuan China masing-masing mengalami penurunan 0,37 persen. 

Selain itu, ringgit Malaysia mencatatkan pelemahan sebesar 0,43 persen, diikuti baht Thailan yang melempem 0,32 persen, dan rupee India melemah 0,13 persen terhadap greenback

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan dolar AS menguat setelah rilis indikator ekonomi China yang mengecewakan. Hal ini pun menimbulkan kekhawatiran tentang pertumbuhan global, sekaligus mendorong permintaan untuk safe-haven greenback.

Kekhawatiran ini juga dipahami karena hasil industri China pada Juli 2023 lebih lambat dari bulan sebelumnya dan penjualan ritel juga memiliki nasib serupa. Kondisi tersebut lantas menambah kecemasan atas goyahnya pemulihan ekonomi di Negeri Tirai Bambu. 

“Adanya kekhawatiran bahwa inflasi yang kaku akan mendorong Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dan lebih lama dari yang diperkirakan para pedagang sebelumnya,” ujarnya dalam publikasi riset harian, Selasa (15/8/2023). 

Sementara itu, data penjualan ritel AS yang akan dirilis Selasa malam dapat menambah perdebatan. Sejauh ini konsumen AS dinilai telah bertahan, bahkan dalam menghadapi kenaikan suku bunga yang akhirnya semakin mendorong penguatan dolar.

Dari sisi internal, Ibrahim menyampaikan PMI Manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansif yakni berada di level 53,3 pada Juli 2023. Kondisi ini lebih baik bandingkan PMI China di level 49,2, lalu Eropa 42,7 sementara AS dan Jepang mencapai level 49,0. 

Sementara itu, dia menuturkan bahwa Indonesia dan India menjadi dua negara yang memiliki ekonomi kuat sekaligus mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. 

Sementara itu, ada negara-negara di Asean dan Asia yang selama ini cukup kuat, tetapi terdampak ekonomi global yang melemah. Contohnya, Vietnam yang selama pandemi Covid-19 menunjukan penguatan kinerja namun kini melemah di level 48,7. 

“Di lihat dari total negara yang di survei, sebanyak 72,7 persen berada dalam aktivitas PMI manufaktur yang kontraktif. Artinya perekonomian dunia dicirikan dengan mayoritas negara dengan kondisi kegiatan manufakturnya melambat,” tuturnya. 

Adapun PMI di atas 50 hanya mencapai sebesar 9,1 persen. Kondisi tersebut memang menunjukkan ekspansi, tetapi cenderung dalam tren melambat. Adapun sebanyak 18,2 persen PMI menunjukan ekspansi dan akseleratif, termasuk Indonesia, India, Filipina, dan Meksiko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dionisio Damara
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper