Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Emiten Unggas CPIN, JPFA, MAIN, Dkk Peluang Nikmati Kenaikan Laba 2023

Emiten Unggas CPIN, JPFA, dan MAIN diproyeksi memiliki prospek positif kedepan. Karena ruang margin yang lebih lebar untuk segmen pakan dan harga daging ayam.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 05 Desember 2022  |  05:34 WIB
Emiten Unggas CPIN, JPFA, MAIN, Dkk Peluang Nikmati Kenaikan Laba 2023
Widodo Makmur Unggas punya visi menjadi perseroan terbesar di asia tenggara dalam penyediaan produk pangan berbasis protein hewani dengan prinsip, tumbuh dan sukses bersama. - Widodo Makmur Unggas
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten-emiten di sektor perunggasan diproyeksikan memiliki prospek positif tahun depan. Ruang margin yang lebih lebar untuk segmen pakan dan harga daging ayam yang lebih stabil menjadi pendorong utama perbaikan kinerja.

Sampai akhir kuartal III/2022, mayoritas emiten unggas melaporkan penurunan laba bersih. Imbas dari beban yang naik akibat harga tinggi bahan baku yang berlanjut.

Sebagai contoh, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) membukukan kenaikan penjualan hingga akhir kuartal III/2022. Namun beban bahan baku yang meningkat membuat laba bersih Japfa melanjutkan koreksi dibandingkan dengan tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan per September 2022 yang belum diaudit, penjualan Japfa selama sembilan bulan di 2022 mencapai Rp36,79 triliun, tumbuh 12,16 persen secara yoy dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp32,80 triliun.

Pada saat yang sama, beban pokok penjualan Japfa tercatat naik 14,08 persen menjadi Rp30,64 triliun, dibandingkan dengan Rp26,86 triliun pada akhir kuartal III/2021. Alhasil, laba bersih JPFA tergerus 5,24 persen secara tahunan menjadi Rp1,42 triliun, dari sebelumnya Rp1,50 triliun. Meski demikian, laju penurunan ini membaik dibandingkan dengan koreksi sepanjang semester I/2022 yang mencapai 17,93 persen yoy.

Sementara itu, PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) melaporkan masih mengalami rugi bersih sebesar Rp50,96 miliar sepanjang Januari—September 2022. Meski demikian, MAIN mampu mencatatkan laba bersih Rp15,61 miliar pada kuartal III/2022, naik dari kuartal II/2022 ketika MAIN melaporkan rugi sebesar Rp77,05 miliar.

Di tengah penurunan kinerja secara tahunan emiten unggas di atas, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) membukukan kenaikan penjualan sampai pengujung kuartal III/2022. Laba CPIN pada sembilan bulan pertama 2022 juga kembali naik.

Berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit, penjualan Charoen Pokphand per September 2022 mencapai Rp43,43 triliun, naik 15,54 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp37,59 triliun.

Kenaikan penjualan CPIN juga diikuti dengan meningkatnya beban pokok penjualan, dari Rp31,62 triliun menjadi Rp36,51 triliun. Kenaikan terutama disumbang dari pos bahan baku yang digunakan yang mencatatkan kenaikan sebesar 15,10 persen secara tahunan menjadi Rp31,05 triliun. Pada Januari—September 2021, beban bahan baku berada di angka Rp26,97 triliun.

Kenaikan beban pokok penjualan yang lebih rendah dari kenaikan penjualan membuat laba kotor CPIN naik 16,01 persen yoy dari Rp5,96 triliun per September 2021 menjadi Rp6,92 triliun.

Sementara itu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 19,05 persen menjadi hanya Rp3,18 triliun dari Rp2,67 triliun pada periode yang sama pada tahun sebelumnya.

PT Widodo Makmur Unggas Tbk. (WMUU) tercatat membukukan laba bersih sebesar Rp91,09 miliar per September 2022. Laba ini diperoleh di tengah tekanan harga bahan baku pakan ternak yang masih dirasakan perseroan.

Laba bersih WMUU tercatat turun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp144,09 miliar. Penurunan ini turut dipengaruhi oleh koreksi pada penjualan neto WMUU sebesar 6,63 persen secara tahunan, dari Rp2,19 triliun menjadi Rp2,04 triliun.

Meski demikian, WMUU masih menjadi kontributor utama pendapatan induknya PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. (WMPP), yakni sebesar 61 persen pada kuartal III/2022.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano menyebutkan bahwa sektor perunggasan telah turun 14 persen secara year to date (ytd) atau lebih buruk daripada performa Indeks Harga Saham Gabungan. Penurunan ini disebabkan oleh harga bungkil kedelai yang lebih tinggi daripada tahun lalu dan minimnya kebijakan pengurangan populasi (culling).

“Namun kami mengestimasi emiten unggas yang memiliki bisnis terintegrasi akan menikmati kenaikan laba bersih 16—22 persen pada 2023 karena margin bisnis pakan yang lebih lebar dan harga jual produk yang lebih stabil,” katanya dalam riset yang dikutip Minggu (4/12/2022).

Victor mengatakan stabilisasi pasokan tetap menjadi faktor krusial pada 2023 meski terdapat momentum menjelang Pemilihan Umum 2024. Secara historis, harga ayam pada Pemilihan Umum 2014 dan 2019 tetap tertekan meski terdapat ekspektasi konsumsi meningkat karena banjir populasi.

Kebijakan stabilisasi pasokan dan permintaan unggas pada 2023 bakal menambah katalis positif di sektor ini karena rata-rata upah minimum akan meningkat. Ekonom BRI Danareksa Sekuritas mengestimasi kenaikan upah bakal menambah kontribusi konsumsi sebesar 0,47 persen pada produk domestik bruto (PDB).

“Meski ada risiko harga yang lebih rendah karena oversupply, kami meyakini ada potensi perbaikan margin dari sisi biaya produksi yang mengimbangi risiko tersebut,” katanya.

BRI Danareksa Sekuritas lantas menaikkan pandangan pada sektor unggas dari netral menjadi overweight dengan rekomendasi beli pada CPIN dan MAIN dari sebelumnya hold.

“MAIN menjadi pilihan utama kami karena kemampuannya membalikkan rugi, kontribusi yang besar di segmen pakan, dan beban dari upah yang cenderung lebih rendah,” kata dia.

Adapun target harga untuk CPIN adalah Rp6.800 dan MAIN Rp850 per saham. JPFA yang direkomendasikan beli memiliki target harga Rp2.000 per saham.

Analis Samuel Sekuritas Muhammad Farras Farhan mengatakan kebijakan pemangkasan populasi unggas pada Oktober—November 2022 untuk mengurangi potensi surplus menjadi sentimen positif bagi emiten unggas. Instruksi tersebut dapat membantu mengurangi penurunan harga lebih lanjut.

“Untuk diketahui, harga broiler sempat turun 18 persen dalam tiga bulan terakhir, sedangkan harga DOC melonjak 17 persen pada periode yang sama,” kata Farhan.

Harapan lain bagi sektor unggas datang dari harga jagung yang diperkirakan segera turun seiring dengan berakhirnya La Nina. Kondisi cuaca akan membantu meningkatkan produksi jagung.

“Kami masih menyukai emiten dengan margin yang stabil dan valuasi yang menarik,” kata dia.

Mengingat keberhasilannya mempertahankan margin yang sehat dan mencatatkan pertumbuhan positif, Samuel Sekuritas memilih JPFA sebagai yang paling unggul dari semua emiten unggas dengan rekomendasi beli dan target harga Rp1.800 per saham.

“Namun, kami juga melihat potensi alpha pick di WMPP, dengan bisnisnya yang terintegrasi penuh mencakup unggas, sapi, dan pengolahan daging. Kami memberikan rekomendasi buy untuk WMPP dengan target harga Rp190 berdasarkan 15x P/E FY23F,” katanya.

Chief Executive Officer Widodo Makmur Unggas Ali Mas’adi mengatakan peningkatan harga bahan baku pakan unggas menjadi salah satu faktor menurunnya laba dan pendapatan WMUU per kuartal III/2022 dibandingkan periode yang sama sebelumnya.

Kondisi tersebut telah memicu naiknya biaya produksi dan berpengaruh terhadap capaian target yang telah ditentukan sebelumnya.

“Selain harga pakan, perusahaan saat ini juga tengah berfokus pada peningkatan utilisasi rumah potong hewan unggas (RPHU) dan mengurangi porsi trading karkas yang menyebabkan menurunnya angka penjualan secara umum,” kata Ali.

Dia mengatakan langkah tersebut diambil untuk meningkatkan kualitas produk unggas WMUU, terutama dalam rangka memenuhi permintaan ekspor produk unggas dalam waktu dekat.

Untuk terus meningkatkan pendapatan, Ali mengatakan WMUU melakukan sejumlah inovasi bisnis pada paruh kedua 2022. Salah satunya dengan menjalin kerja sama untuk ekspor produk unggas ke China dan Singapura.

“Proses persiapan masih berlangsung hingga saat ini, dan diharapkan dapat terealisasi pada 2023,” katanya.

Sementara itu, Chief Executive Officer Widodo Makmur Perkasa Tumiyana mengatakan industri peternakan menghadapi situasi yang menantang pada 2022, terutama dari sisi harga bahan baku dan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak ruminansia.

“Kami terus berinovasi untuk menjawab tantangan tersebut untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi," jelasnya, Jumat (2/12/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emiten perunggasan jpfa main cpin WMUU
Editor : Ibad Durrohman
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top