Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Saham Grup Djarum di Blibli (BELI) Kena Lock Up, Investor Ritel Aman?

Entitas pengendali Blibli milik Grup Djarum, Global Investama Andalan bakal lock up sahamnya selama 8 bulan.
Annisa Kurniasari Saumi
Annisa Kurniasari Saumi - Bisnis.com 09 November 2022  |  06:15 WIB
Saham Grup Djarum di Blibli (BELI) Kena Lock Up, Investor Ritel Aman?
Dari kiri: Direktur Investment Banking BRI Danareksa Sekuritas Kevin Praharyawan, Chief Financial Officer (CFO) Tiket.com Ronald Winardi, Chief Executive Officer (CEO) Tiket.com George Hendrata, Direktur Utama PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) Kusumo Martanto, Direktur BELI Hendry, Direktur BELI Eric Alamsjah Winarta, Presiden Direktur BCA Sekuritas Mardy Sutanto, dan Investor Relations BELI Nathaniel Nadlo Widjaja dalam paparan publik BELI, di Jakarta, Selasa (18/10 - 2022).\\r\\n
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Entitas pengendali Blibli milik Grup Djarum, Global Investama Andalan bakal lock up sahamnya selama 8 bulan. Perseroan memiliki mayoritas saham sebanyak 99,15 miliar unit.

Usai IPO ini, terdapat 100,6 miliar saham yang akan dikenakan lock up atau yang dilarang dialihkan. Dalam prospektusnya, Blibli menyampaikan selain PT Global Investama Andalan, terdapat 89 pihak lainnya yang telah memberikan surat pernyataan tidak akan mengalihkan sebagian atau seluruh sahamnya sampai 8 bulan setelah pernyataan pendaftaran menjadi efektif.

"Total saham yang dimiliki oleh pihak-pihak yang terkena lock up adalah sejumlah 100,6 miliar saham," tulis Blibli dalam prospektusnya.

Rinciannya, jumlah saham Global Investama Andalan yang terkena lock up adalah sebanyak 99,15 miliar saham atau sebanyak 98,46 persen, dan sisanya sebanyak 1,45 miliar atau setara 1,45 persen dimiliki oleh individu yang terdiri dari 89 pihak.

Adapun saham individu terbesar yang di-lock up dimiliki oleh Dimas Surya Yaputra yakni sejumlah 450,19 juta saham. Dimas merupakan Co-Founder dan Chief Commercial Officer Tiket.com.

Porsi kepemilikan saham terbesar yang terkenal lock up selanjutnya dimiliki Co-Founder Tiket.com Wenas Agus Setiawan sebesar 300,7 juta saham, dan Co-Founder dan Chief Marketing Officer Tiket.com Mikhael Gaery Undarsa 278 juta saham.

Sementara itu, Manajemen Blibli menyampaikan tidak terlalu mengkhawatirkan dampak resesi terhadap perseroan. 

CEO & Co-founder Blibli Kusumo Martanto mengatakan pihaknya terus membuat dan mencari pemasok untuk diajak bekerja sama.

"Kalau dari sisi, di dalam emiten sendiri, kami terus membuat dan mencari rekan-rekan, di mana secara suplai produk-produk yang berkualitas dan juga kami bekerja sama secara strategis dengan pemegang merek baik internasional dan Indonesia," ucap Kusumo.

Dia melanjutkan, Blibli juga terus mengejar optimisasi atau efisiensi yang telah dijalankan sejak awal. Dengan demikian, secara berkesinambungan, Blibli percaya pihaknya cukup solid untuk menghadapi ketidakpastian yang dirasakan di global.

"Kami yakin bisa melewati itu [resesi] dengan baik, dan kami selalu optimistis," tuturnya.

CEO Tiket.com George Hendrata menambahkan Indonesia lumayan beruntung di tengah resesi karena mendapatkan surplus dari komoditas. Selain itu, dia melihat daya beli masyarakat masih baik dan pemerintah juga terus membantu agar harga barang pokok tidak melonjak tinggi.

"Ini juga kami lihat dari model Blibli sendiri akan sangat baik, karena kami terus memperhatikan efisiensi. Sepanjang tiga tahun ini efisiensi kami terus membaik, double digit margin," kata George dalam konferensi pers Blibli, Selasa (8/11/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

djarum ipo blibli.com Resesi
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top