Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Cetak Reli Terpanjang sejak Akhir 2021, Nasdaq Melesat 2 Persen

Data ekonomi dalam beberapa hari terakhir telah meyakinkan investor bahwa tekanan inflasi mulai mereda setelah naik dengan kecepatan stabil sejak awal 2021.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat ditutup melonjak pada akhir perdagangan Jumat (12/8/2022) dipicu oleh data inflasi yang lebih ringan dari perkiraan membantu pasar saham mencatat kenaikan beruntun terpanjang sejak November 2021.

Berdasarkan data Bloomberg, Sabtu (13/8/2022), indek Dow Jones Industrial Average ditutup melejit 1,27 persen atau 423,38 poin ke 33.761,05, S&P 500 melesat 1,73 persen atau 72,88 poin ke 4.280,15, dan Nasdaq melambung 2,09 persen atau 267,27 poin ke 13.047,19.

Saham Apple (AAPL) naik 2 persen menyusul laporan Bloomberg News yang mengindikasikan raksasa teknologi itu berharap untuk mempertahankan penjualan iPhone pada 2022 meskipun pasar mengalami perlambatan.

Sumber Bloomberg menyebutkan Apple memproyeksikan akan merakit sekitar 220 juta iPhone secara total tahun ini. Ekspektasi penjualan dan produksi Apple biasanya merupakan rahasia yang dijaga ketat.

Data ekonomi dalam beberapa hari terakhir telah meyakinkan investor bahwa tekanan inflasi mulai mereda di seluruh perekonomian setelah naik dengan kecepatan stabil sejak awal 2021.

Indeks harga produsen (PPI) AS pada Kamis (11/8/2022) menunjukkan harga turun 0,5 persen dari bulan sebelumnya dibandingkan dengan ekspektasi kenaikan 0,2 persen. Pada Rabu (10/8/2022), indeks harga konsumen (CPI) menunjukkan harga tetap datar selama sebulan dan naik kurang dari perkiraan 8,5 persen per tahun.

Di tengah penurunan yang lebih ringan untuk harga konsumen dan produsen, Rilis harga impor AS pada Jumat mencerminkan penurunan pertama mereka dalam tujuh bulan di Juli.

Menurut data dari Departemen Tenaga Kerja, harga impor turun 1,4 persen lebih baik dari perkiraan bulan lalu setelah naik 0,3 persen pada Juni, penurunan bulanan terbesar sejak April 2020.

Data CPI pada Rabu menunjukkan indeks bensin turun 7,7 persen secara bulanan pada Juli 2022, atau penurunan terbesar sejak April 2020, karena harga gas turun selama 59 hari terakhir, di bawah US$4 per galon untuk pertama kalinya sejak Maret pada Kamis.

Di tempat lain dalam rilis ekonomi, pembacaan awal Agustus Universitas Michigan pada indeks sentimen konsumen naik bulan lalu dari rekor terendah awal musim panas ini pada level 55,1. Angka tersebut mencapai 51,5 di bulan sebelumnya dan mencapai rekor terendah 50 pada Juni.

“Fakta bahwa pasar mulai melihat harga energi turun, itu mungkin merupakan tanda dari indikator inflasi lainnya yang akan datang. Kita mulai mengurangi masalah inflasi ini, dan itu adalah katalis besar bagi pasar.” kata Kepala Strategi Investasi Jaringan iCapital Anastasia Amoroso kepada Yahoo Finance Live.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper