Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Dunia Turun Menunggu Data Cadangan Amerika Serikat

Harga minyak turun karena investor khawatir tentang konsumsi konsumen yang lebih rendah sambil menunggu perilisan dari cadangan minyak AS.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 27 Juli 2022  |  07:00 WIB
Harga Minyak Dunia Turun Menunggu Data Cadangan Amerika Serikat
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak turun pada perdagangan Rabu pagi WIB karena investor khawatir tentang konsumsi konsumen yang lebih rendah sambil menunggu perilisan dari cadangan minyak strategis AS.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September melemah 75 sen atau 0,7 persen, menjadi US$104,40 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September jatuh 1,72 poin atau 1,8 persen, menjadi US$94,98 per barel.

Pemerintahan Biden mengatakan akan menjual tambahan 20 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS sebagai bagian dari rencana sebelumnya untuk memanfaatkan fasilitas tersebut guna menenangkan harga minyak yang didorong oleh invasi Rusia ke Ukraina pada Februari, dan pemulihan permintaan yang menurun di awal pandemi.

Pada akhir Maret, pemerintah mengatakan akan merilis rekor 1 juta barel per hari minyak mentah SPR selama enam bulan.

"Pasar bereaksi terhadap pengumuman SPR ini dan telah membantu membatasi banyak hal, sampai batas tertentu," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York dikutip dari Antara Rabu (27/7/2022).

Kepercayaan konsumen AS turun ke level terendah pada Juli di tengah kekhawatiran tentang inflasi dan kenaikan suku bunga menurut survei Conference Board. Ini juga menunjukkan konsumen kurang optimis tentang pasar tenaga kerja.

Harga minyak mendapat dorongan awal dari berita bahwa Rusia memperketat aliran gasnya di Eropa. Pada Senin (25/7), Gazprom mengatakan pasokan gas melalui pipa Nord Stream 1 ke Jerman akan turun menjadi hanya 20 persen dari kapasitas.

Jerman, ekonomi terbesar Eropa, mungkin harus menjatah gas untuk industri agar warganya tetap hangat selama musim dingin.

"Pengumuman itu menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa Rusia, meskipun penyangkalannya sinis, tidak akan menghindar dari menggunakan energinya sebagai senjata untuk mendapatkan konsesi dalam perangnya melawan Ukraina dan bisa mengharapkan keberhasilan jangka pendek," kata Tamas Varga di pialang minyak PVM.

Menteri energi Uni Eropa menyetujui proposal untuk semua negara Uni Eropa guna memotong penggunaan gas secara sukarela sebesar 15 persen dari Agustus hingga Maret.

Pasokan minyak mentah, produk minyak dan gas Eropa telah terganggu oleh sanksi Barat dan perselisihan pembayaran dengan Rusia sejak invasi 24 Februari ke Ukraina, yang disebut Moskow sebagai "operasi militer khusus".

Uni Eropa telah berulang kali menuduh Rusia melakukan pemerasan energi. Kremlin menyalahkan kekurangan pada masalah pemeliharaan dan sanksi.

Harga bahan bakar yang tinggi telah mulai mengekang permintaan, dan investor bersiap untuk suku bunga AS yang lebih tinggi. Federal Reserve diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada akhir pertemuan kebijakannya pada Rabu.

"Volatilitas kemungkinan akan meningkat seiring berjalannya minggu ini dengan keputusan Fed besok dan komentar terkait yang kemungkinan menentukan arah perdagangan minyak sepanjang sisa minggu ini," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates LLC di Galena, Illinois.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak mentah wti harga minyak brent Suku Bunga
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top