Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rupiah Juara di Asia Pasifik saat Dolar AS Lesu

Rupiah ditutup naik 0,26 persen menjadi Rp14.197 per dolar AS pada Jumat (24/12/2021), tertinggi di Asia.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 24 Desember 2021  |  15:35 WIB
Rupiah Juara di Asia Pasifik saat Dolar AS Lesu
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (3/3/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah menjadi mata uang yang paling perkasa di kawasan Asia Pasifik pada akhir pekan ini atau sehari sebelum Hari Natal.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,26 persen menjadi Rp14.197 per dolar AS pada Jumat (24/12/2021). Namun, sejak awal tahun mata uang Garuda masih turun 1,03 persen.

Kenaikan rupiah terjadi bersamaan dengan apresiasi mata uang yen Jepang yang naik 0,02 persen, yuan China naik 0,01 persen, won Korea Selatan naik 0,12 persen, dan baht Thailand naik 0,16 persen.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama dunia melemah 0,05 persen menjadi 96.019.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim menjelaskan pelemahan dolar AS disebabkan oleh investor memburu aset berisiko karena khawatiran virus varian Omicron Covid-19 kian memudar.

Adapun, investor menyambut baik persetujuan penggunaan darurat pill Covid-19 seperti Molnupiravir, Merck & Co . Inc. dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS.

"Di tempat lain di Asia Pasifik, pihak berwenang mengunci kota Xi'an di Cina barat, langkah terbesar sejak pandemi dimulai pada awal 2020, dalam upaya untuk mengekang wabah COVID-19 terbaru di China," tulis Ibrahim dalam riset harian, Jumat (24/12/2021).

Sementara dari internal, pemerintah terus melakukan pengawasan secara ketat terhadap masyarakat yang akan melakukan mudik jelang Natal dan Tahun Baru 2022.

"Walaupun dalam praktiknya di jalan-jalan terutama di jalan tol tidak ada penyekatan yang cukup signifikan. Ini menandakan bahwa Pemerintah percaya penyebaran Omicron tidak perlu dikhawatirkan," tulis Ibrahim.

Ibrahim menunjukkan berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa walaupun varian baru Omicron ini bermutasi 70 kali lebih cepat dari varian Delta namun tidak mematikan berbeda dengan varian Delta. Walaupun Omicron tidak mematikan, Pemerintah patut tetap waspada karena pandemi belum berakhir.

Ibrahim pun memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat pada perdagangan berikutnya ke kisaran Rp14.160 - Rp14.230 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as Rupiah mata uang asia
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top