Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham Bukalapak (BUKA) Kena ARB, Netizen Ngamuk di Review Aplikasi Playstore

Sejumlah investor ritel mengeluhkan anjloknya saham BUKA di kolom komentar dan pemberian penilaian aplikasinya di google playstore.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 10 Agustus 2021  |  11:25 WIB
Saham Bukalapak (BUKA) Kena ARB, Netizen Ngamuk di Review Aplikasi Playstore
Warga mengakses aplikasi Bukalapak di Jakarta, Kamis (5/8/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Harga saham emiten bisnis rintisan yang baru saja listing akhir pekan lalu, PT Bukalapak.com (BUKA) terkena auto rejection bawah (ARB) pada perdagangannya hari ketiga, Selasa (10/8/2021).

Berdasarkan data RTI, emiten berkode BUKA ini terkena ARB pada pukul 09.20 WIB dengan anjlok 75 poin alias 6,76 persen ke level 1.035.

Padahal, BUKA sempat mengalami momentum auto rejection atas (ARA) pada dua hari pertama sahamnya diperdagangkan di bursa, tepatnya hingga sesi I kemarin.

Hingga akhir sesi pertama hari ini, total transaksi saham BUKA mencapai Rp1,02 triliun. Sepanjang sesi, harga saham BUKA bergerak di rentang Rp1.035-Rp1.160. Investor asing mencatatkan net sell Rp151,37 miliar.

Menariknya, sejumlah investor ritel mengeluhkan anjloknya saham BUKA di kolom komentar dan pemberian penilaian aplikasinya di google playstore.

Mengutip dari kolom penilaian playstore, Selasa (10/8/2021), sejumlah penilaian berisi keluhan saham BUKA yang anjlok.

"Payah neh masa hari ke-3 ARB...tega bener nyari duit dr rakyat indo buat investor asingnya..ga malu apa pasang bendera indo di deskripsi..," ungkap Haryadi Yusuf dalam penilaian aplikasi Bukalapak di playstore.

Selain itu, ada pula akun lain yang mengeluhkan ARB emiten teknologi tersebut. "Urusin tuh saham lu anjlok," ungkap kelvin kamdani dalam review.

Di sisi lain, pihak aplikasi Bukalapak menjawab setiap komentar dan penilaian tersebut dengan format yang hampir sama mengungkapkan permohonan maaf dan permohonan mengisi formulir online.

"Hai Kak, mohon maaf atas ketidaknyamanannya ya. Terkait kendala Kakak mengenai saham kami sarankan bisa isi form di link https://bl.id/appreview terlebih dahulu agar bisa dibantu cek lebih lanjut ya. Terima kasih :)," begitu salah satu tanggapan dari pengelola aplikasinya.

Tangkapan layar protes sejumlah investor di playstore soal turunnya saham BUKA.

Sebagai informasi, Bursa Efek Indonesia menetapkan kebijakan auto rejection asimetris pada masa pandemi, yang berlaku mulai 13 Maret 2020.

Kebijakan tersebut termaktub dalam Peraturan No. II-A Tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dengan SK Direksi No: KEP-00025/BEI/03-2020.

Sesuai peraturan baru tersebut rentang harga saham Rp50—Rp200 akan dikenakan auto reject apabila terjadi kenaikan sebesar 35 persen atau penurunan harga saham sebesar 7 persen dalam satu hari.

Sementara untuk rentang harga saham Rp200—Rp5.000 dikenakan auto reject apabila terjadi kenaikan harga sebesar 25 persen atau penurunan harga sebesar 7 persen.

Kemudian untuk rentang harga saham di atas Rp5.000 dikenakan auto reject apabila terjadi kenaikan harga sebesar 20 persen atau penurunan harga sebesar 7 persen.

Sebelum kebijakan auto rejection asimetris berlaku, Bursa menetapkan kebijakan auto rejection simetris, dimana batas atas dan batas bawah memiliki besaran yang sama di setiap fraksi harga.

Perinciannya, kelompok harga saham di rentang Rp50-Rp200 memiliki batas atas dan batas bawah 35 persen, rentang harga Rp200-Rp5.000 berbatas atas dan berbatas bawah 25 persen, dan rentang harga di atas Rp5.000 memiliki batas atas dan batas bawah sebesar 20 persen.

Dengan demikian, regulasi yang berlaku hingga saat ini ialah kebijakan auto rejection asimetris pada masa pandemi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG saham bukalapak auto rejection
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top