Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasokan Melimpah, Harga Minyak Turun ke US$40 per Barel

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Oktober turun 3 sen menjadi US$37,33 per barel di New York Merchantile Exchange pada 10.12 WIB.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 12 September 2020  |  10:22 WIB
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak turun dengan pelemahan paling dalam secara mingguan sejak April 2020 pada akhir musim panas ini. Kekhawatiran mengenai kelebihan pasokan minyak yang diproduksi negara OPEC menjadi pemberat.

Berdasarkan data Bloomberg pada Sabtu (12/9/2020) pukul 10.12 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Oktober turun 3 sen menjadi US$37,33 per barel di New York Merchantile Exchange.

Sementara harga minyak Brent kontrak pengiriman November 2020 melemah 23 sen menjadi US$39,83 per barel di ICE Futures Exchange. Dalam sepekan, harga anjlok 6,6 persen.

Pelaku pasar khawatir mengenai indikasi Arab Saudi telah menaikkan kuota produksi minyak mentah dari yang diizinkan dalam kesepakatan OPEC secara berkelanjutan sejak Juli 2020.

Adapun, pasokan minyak meningkat lagi pekan lalu untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli.

Head of OTC Energy Trading LPS Futures Michael Hiley mengatakan bahwa harga minyak tak mampu menguat pekan ini karena tertekan oleh sejumlah sentimen negatif.

“Kekhawatiran mengenai permintaan akan turun muncul karena orang bekerja dari rumah dan tidak banyak yang melakukan perjalanan,” kata Hiley seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (12/9/2020). 

Belum lagi, ketidakpastian mengenai seberapa besar pasokan minyak OPEC+ bakal kembal ke pasar semakin menambah lesu harga minyak.

Walaupun pasokan minyak AS semakin mengecil dalam beberapa bulan terakhir, namun produsen minyak diperkirakan menambah produksi walaupun ada pengetatan finansial.

President of Strategic Energy & Economic Research Michael Lynch mengatakan penambahan pasokan minyak di AS merupakan pengingat bahwa musim panas yang menjadi masa-masa pengerek harga sudah berakhir.

“Musim panas yang menjadi musim perjalanan sudah berakhir, lagipula tingkat pengendara tidak setinggi yang diharapkan,” kata Lynch.

Senior Investment Strategist U.S. Bank Wealth Management Rob Haworth menilai selama ekonomi belum dibuka sempurna harapan penguatan harga minyak masih tak bisa terlihat.

“Cara unik untuk memprediksi industri adalah seberapa cepan ekonomi bisa dibuka. Masalahnya, perusahaan harus bertahan sampai waktu itu terjadi,” ujar Haworth. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga minyak mentah harga minyak brent harga minyak mentah wti
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top