Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Buana Lintas Lautan (BULL) Malah Cuan Saat Harga Minyak Mendingin

Direktur Utama Buana Lintas Lautan Wong Kevin mengatakan fundamental perseroan sangat kuat pada 2020.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 10 September 2020  |  15:47 WIB
MT Bull Flores, salah satu kapal milik PT Buana Lintas Lautan Tbk. - bull.co.id
MT Bull Flores, salah satu kapal milik PT Buana Lintas Lautan Tbk. - bull.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – PT Buana Lintas Lautan Tbk. meyakini penurunan harga minyak akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (9/9/2020)harga minyak Brent kontrak pengiriman November 2020 di bursa ICE Futures Europe turun 0,49 persen ke US$40,59 per barel. Pergerakan telah amblas 38,50 persen secara year to date (ytd).

Selanjutnya, harga minyak WTI kontrak pengiriman Oktober 2020 turun 0,74 persen ke level US$37,77 per barel di New York Merchantile Exchange. Harga terkoreksi 38,14 persen sepanjang periode berjalan 2020.

Direktur Utama Buana Lintas Lautan Wong Kevin mengatakan fundamental perseroan sangat kuat pada 2020. Tarif sewa rerata pada kuartal III/2020 jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Jadi kalau harga minyak drop lagi, destocking akan berhenti dan berbalik ke penambahan floating storage lagi yang mendorong kuartal II/2020 ke record high," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (9/9/2020).

Dia menyebut kenaikan tarif juga didorong oleh pola musiman. Menurutnya, posisi kuartal IV selalu lebih tinggi dari kuartal III.

Sebelumnya, Kevin menjelaskan bahwa perseroan telah menambah beberapa kapal besar pada kuartal I/2020. Dengan demikian, daya angkut naik 2,3 kali dibandingkan dengan tahun lalu.

Dia menyebut kinerja keuangan perseroan pada kuartal I/2020 dan kuartal II/2020 dibantu peningkatan permintaan ruang kapal untuk penyimpanan hasil produksi minyak. Pasalnya, terjadi kelebihan permintaan secara signifikan untuk komoditas tersebut.

Kevin menuturkan permintaan minyak anjlok 35 juta barel per hari (bpd) selama April 2020. Kondisi itu diperkirakan masih berlanjut menjadi 20 juta bpd hingga 25 juta bpd di bawah normal selama Mei 2020 hingga Juni 2020 yang mengakibatkan permintaan ruang kapal-kapal untuk menjadi floating storage melonjak drastis.

“Kemungkinan permintaan storage tetap berlanjut sangat memungkinkan karena kondisi tersebut time charter equivalent rates kapal tanker besar rerata 2 kali hingga 2,5 kali dibandingkan dengan tahun lalu,” jelasnya.

Emiten berkode saham BULL itu memperkirakan pendapatan akan naik dua kali lipat dibandingkan dengan 2019. Selanjutnya, EBITDA dan laba bersih dari operasi kemungkinan akan naik masing-masing 2,5 kali dan 3,5 kali dari tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga minyak mentah buana lintas lautan
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top