Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pulihnya Data Ekonomi China Berpotensi Dorong Rupiah Terhadap Dolar

Nilai tukar rupiah berhasil rebound terhadap dolar AS dan berakhir terapresiasi 27 poin atau 0,17 persen ke level Rp16.310 per dolar AS pada perdagangan Selasa (31/3/2020).
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (23/3/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (23/3/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Kembali menguatnya data perekonomian China diperkirakan akan membantu penguatan mata uang rupiah hari ini, Rabu (1/4/2020).

Ibrahim, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, menyampaikan dalam perdagangan Rabu (1/4/2020) rupiah kemungkinan akan kembali menguat di level Rp16.250 - Rp16.400 per dolar AS.

Ada sejumlah faktor yang menopang penguatan rupiah. Dari sisi eksternal, ada kabar gembira dari China.

Biro Statistik Nasional Negeri Tirai Bambu melaporkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur periode Maret sebesar 52.

Angka itu melonjak drastis dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 35,7 sekaligus menjadi catatan terbaik sejak September 2017.

Lonjakan PMI menunjukkan industri manufaktur China sudah bangkit setelah dihantam virus corona. PMI menggambarkan pembelian bahan baku/penolong dan barang modal yang digunakan untuk proses produksi pada masa mendatang.

Input sudah meningkat, dan akan menjadi peningkatan output,” ujarnya.

Tidak hanya manufaktur, PMI sektor jasa juga melejit dari 29,8 menjadi 52,3. Ini semakin mempertegas bahwa aktivitas ekonomi di Negeri Panda sudah sembuh.

Selain itu, pasar kembali menaruh harapan besar terhadap stimulus fiskal, terutama di AS. Salah satu program dalam stimulus tersebut adalah bantuan untuk pengembangan vaksin virus corona.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump melalui paket stimulus fiskal bernilai US$2,2 triliun mencoba mempercepat penemuan vaksin corona. Pemerintah menyediakan dana bagi perusahaan farmasi di AS untuk meningkatkan produktivitas mereka.

Dari nilai US$2,2 triliun, pemerintah AS akan menggelontorkan dana US$421 miliar untuk membantu Johnson & Johnson dalam membangun fasilitas produksi baru yang membutuhkan investasi US$1 miliar. Fasilitas itu ditargetkan mampu memproduksi vaksin virus corona sebanyak 1 miliar dosis.

Sementara itu, dari sisi internal, Presiden Joko widodo mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan status darurat kesehatan masyarakat untuk menanggulangi wabah virus corona di Indonesia (Covid-19).

Kebijakan tersebut diambil setelah menetapkan Covid-19 sebagai jenis penyakit dan faktor risiko yang menimbulkan kedaruratan masyarakat.

Dalam status PSBB ini, Jokowi menyatakan bahwa Menteri Kesehatan akan berkoordinasi dengan Kepala Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo dan Kepala Daerah. Dasar hukumnya adalah Undang-undang Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Kebijakan ini menjadikan Polri nanti akan menjadi ujung tombak, menjadikan Polri nanti head to head dengan kepentingan gubernur, bupati dan penguasa daerah lokal.

Dengan demikian, harmonisasi terkait kebijakan-kebijakan yang diambil kabupaten, wali kota, gubernur, bisa terjalin dengan baik dan virus corona bisa teratasi.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah berhasil rebound terhadap dolar AS dan berakhir terapresiasi 27 poin atau 0,17 persen ke level Rp16.310 per dolar AS pada perdagangan Selasa (31/3/2020).

Di sisi lain, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, terpantau menanjak 0,58 persen ke posisi 99,754 setelah berakhir di level 99,181 pada perdagangan Senin.

Mata uang rupiah di pasar spot menguat kendati kurs Jisdor turun. Data yang diterbitkan Bank Indonesia pada Selasa pagi menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp16.367 per dolar AS, melemah 31 poin atau 0,19 persen dari posisi sebelumnya Rp16.336.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper