Ringkasan Perdagangan 27 September: Pasar Saham Lesu, Emas dan Minyak Terpuruk

Secara keseluruhan, pasar saham global merosot di tengah kekhawatiran tentang perkembangan politik di Amerika Serikat (AS) setelah sebuah laporan (whistleblower) terhadap Presiden Donald Trump melemahkan optimisme tentang meredanya ketegangan perdagangan AS-China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 27 September 2019  |  18:37 WIB
Ringkasan Perdagangan 27 September: Pasar Saham Lesu, Emas dan Minyak Terpuruk
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak melemah bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah pelemahan pasar saham global.

Secara keseluruhan, pasar saham global merosot di tengah kekhawatiran tentang perkembangan politik di Amerika Serikat (AS) setelah sebuah laporan (whistleblower) terhadap Presiden Donald Trump melemahkan optimisme tentang meredanya ketegangan perdagangan AS-China.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis, Jumat (27/9/2019):

Drama Politik AS Pukul Saham Global, IHSG & Rupiah Ditutup Melemah

Setelah mampu membukukan penguatan selama dua hari berturut-turut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pergerakannya di zona merah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup di level 6.196,89 dengan melemah 0,54 persen atau 33,44 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Adapun indeks MSCI world equity, yang melacak pergerakan saham di 47 negara, turun 0,1 persen dan bergerak menuju kinerja mingguan terburuknya sejak pertengahan Agustus.

Sejalan dengan penurunan IHSG, nilai tukar rupiah ditutup melemah 8 poin atau 0,06 persen di level Rp14.173 per dolar AS, depresiasi hari kelima berturut-turut, di tengah aksi penghindaran risiko.

Tak Kuat Melawan Dolar AS, Rupiah Terdepresiasi Sepanjang Pekan Ini

Mata uang Garuda menutup perdagangan akhir pekan ini dengan kembali terdepresiasi masih dipicu oleh tekanan dari sentimen eksternal yang menjauhkan investor dari aset berisiko, termasuk rupiah.

Analis PT Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan bahwa pelemahan rupiah didorong oleh melonjaknya dolar AS akibat data ekonomi AS terbaru yang dirilis lebih baik daripada perkiraan pasar. Kondisi itu mendorong investor untuk mengumpulkan greenback di tengah ketakukan pasar terhadap ancaman resesi global.

“Pelemahan rupiah terimbas dari kuatnya dolar AS menjadi ancaman dan membebani pergerakan rupiah yang sesungguhnya berpotensi untuk menguat pada pekan ini,” ujar Yudi kepada Bisnis,

Bursa Asia Melemah, Saham Tambang Angkat Stoxx Eropa

Sentimen untuk aset berisiko terpukul pada Kamis (26/9) di tengah drama politik yang meningkat di Washington dan pemberitaan bahwa pemerintah AS tidak akan memperpanjang pelonggaran yang memungkinkan perusahaan-perusahaan Amerika memasok Huawei Technologies.

Pada perdagangan Kamis, indeks S&P 500 ditutup turun 0,24 persen di level 2.977,62, indeks Nasdaq Composite melemah 0,58 ke level 8.030,66, dan indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun 0,3 persen di posisi 26.891,12.

Pemberitaan terkait isu perdagangan tampak terlalu beragam bagi investor untuk menunjukkan reaksi yang jelas. Perhatian pasar kini beralih pada rilis sejumlah data ekonomi di AS, termasuk inflasi.

Emas dan Minyak Terpuruk Sepanjang Pekan Ini

Pekan ini menjadi pekan yang sulit untuk beberapa komoditas, termasuk emas dan minyak mentah dunia. Kedua komoditas tersebut siap menutup pekan ini kembali terpuruk di zona merah.

Emas menuju penurunan mingguan keempat dalam 5 minggu terakhir karena investor menilai berita terbaru tentang perang perdagangan dan meningkatnya ketegangan politik dalam negeri AS.

Di sisi lainnya, minyak menuju kerugian mingguan terbesar sejak Juli dipicu oleh upaya Arab Saudi yang dapat memulihkan produksi minyaknya yang tersendat akibat serangan drone beberapa pekan lalu, lebih cepat daripada perkiraan pasar.

Dolar AS Alami Tren Positif, Ini Penyebabnya

Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) menguat di tengah meningkatnya daya tarik aset safe haven akibat risiko mulai dari tensi politik di AS hingga perang dagang AS-China.

Menurut Analis Westpac Imre Speizer, tren dolar AS yang positif tetap utuh di tengah penghindaran risiko yang didorong kekhawatiran perang dagang.

“Selain itu, ekonomi AS yang tangguh dan sikap yang semakin kurang dovish dari anggota dewan Federal Reserve AS mendukung greenback,” terang Speizer, dikutip dari Reuters.

Presiden Federal Reserve Richmond Thomas I. Barkin mengatakan ekonomi AS tampak kuat dan masih terlalu dini untuk mengatakan apakah penurunan suku bunga lebih lanjut diperlukan.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak Desember 2019 terpantau melorot 16,10 poin atau 1,06 persen ke level US$1.499,10 per troy ounce pukul 18.04 WIB di tengah tren kenaikan dolar AS.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, terpantau naik 0,008 poin atau 0,01 persen ke posisi 99,140, kenaikan hari ketiga.

Di dalam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta terpantau stagnan di Rp762.000 per gram. Harga pembelian kembali atau buyback emas Antam ikut stagnan di Rp685.000 per gram.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, Harga Emas Hari Ini

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top