Drama Politik AS Pukul Saham Global, IHSG & Rupiah Ditutup Melemah

Setelah mampu membukukan penguatan selama dua hari berturut-turut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pergerakannya di zona merah pada perdagangan hari ini, Jumat (27/9/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 27 September 2019  |  16:21 WIB
Drama Politik AS Pukul Saham Global, IHSG & Rupiah Ditutup Melemah
Karyawan berada di depan papan elektronik yang menampilkan harga saham di Jakarta - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah mampu membukukan penguatan selama dua hari berturut-turut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pergerakannya di zona merah pada perdagangan hari ini, Jumat (27/9/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup di level 6.196,89 dengan melemah 0,54 persen atau 33,44 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (26/9), IHSG berakhir di level 6.230,33 dengan kenaikan tajam 1,37 persen atau 83,93 poin, kenaikan hari kedua.

Indeks mulai tergelincir dari relinya ketika dibuka turun 0,26 persen atau 16,4 poin di level 6.213,93 pada Jumat pagi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.191,66 – 6.219,77.

Seluruh sembilan sektor berakhir di zona merah, dipimpin properti (-0,89 persen), infrastruktur (-0,87 persen), dan industri dasar (-0,74 persen).

Dari 656 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 147 saham menguat, 250 saham melemah, dan 259 saham stagnan.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing turun 1,76 persen dan 1,15 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG.

Sejalan dengan IHSG, mayoritas indeks saham di Asia berakhir di zona negatif. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang masing-masing melemah 0,77 persen dan 1,17 persen.

Adapun indeks Kospi Korea Selatan melorot 1,19 persen dan indeks Hang Seng Hong Kong ditutup turun 0,33 persen. Namun indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing mampu berakhir naik moderat 0,11 persen dan 0,30 persen.

Secara keseluruhan, pasar saham global merosot di tengah kekhawatiran tentang perkembangan politik di Amerika Serikat (AS) setelah sebuah laporan (whistleblower) terhadap Presiden Donald Trump melemahkan optimisme tentang meredanya ketegangan perdagangan AS-China.

Berdasarkan data Reuters, indeks MSCI world equity, yang melacak pergerakan saham di 47 negara, turun 0,1 persen dan bergerak menuju kinerja mingguan terburuknya sejak pertengahan Agustus.

Indeks MSCI Asia Pacific, selain Jepang, pun terkikis 0,2 persen, meskipun indeks Stoxx 600 Eropa mampu naik didorong harapan resolosi untuk perang dagang.

Sebuah laporan yang dirilis pada Kamis (26/9) mengungkapkan bahwa Trump telah menyalahgunakan jabatannya dengan mencoba untuk meminta campur tangan Ukraina dalam pemilihan presiden (pilpres) AS 2020 demi kepentingan politiknya.

Gedung Putih juga dituduh mencoba "mengunci" bukti tentang perilaku itu. Laporan ini dipandang sebagai pusat penyelidikan impeachment (pemakzulan) oleh kubu Demokrat di Kongres AS. Isu tentang dorongan impeachment tersebut telah menambah volatilitas pasar baru-baru ini.

Laporan itu muncul setelah Ketua Dewan Perwakilan (DPR) AS Nancy Pelosi mengumumkan akan melakukan proses penyelidikan pemakzulan secara resmi terhadap Trump. Di sisi lain, Presiden ke-45 AS ini membantah telah melakukan kesalahan apapun.

"Apa yang kita tunggu adalah bagaimana hal ini dapat berdampak pada negosiasi perdagangan AS-China," ujar Hugh Gimber, pakar strategi pasar global di J.P. Morgan Asset Management.

"Kombinasi dari melemahnya data ekonomi dan meningkatnya ketidakpastian politik pekan ini telah menyebabkan beberapa periode yang sulit di pasar,” terangnya, dilansir dari Reuters.

Mengimbangi kekhawatiran akibat konsekuensi yang dapat timbul dari impeachment terhadap Trump adalah melonggarnya tensi perdagangan antara pemerintah AS dan China.

Pada Kamis (26/9), diplomat China mengatakan Negeri Tirai Bambu bersedia membeli lebih banyak produk AS dan bahwa perundingan perdagangan antara kedua belah pihak akan membuahkan hasil.

Komentar tersebut mendorong sedikit sentimen positif setelah Trump pada Rabu (25/9) mengapresiasi pembelian yang dilakukan China dan mengatakan kesepakatan perdagangan bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Kedua belah pihak kini tengah bersiap untuk mengadakan putaran baru perundingan perdagangan pada 10-11 Oktober di Washington, tetapi banyak investor menyuarakan keraguan atas prospek terobosan yang besar.

"Masih ada jurang yang sangat besar," ujar Eoin Murray, kepala investasi di Hermes Investment Management, menambahkan bahwa prospek kesepakatan telah surut dari awal tahun ini.

Pemberitaan terkait isu perdagangan tampak terlalu beragam bagi investor untuk menunjukkan reaksi yang jelas.

Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa kecil kemungkinan pemerintah AS akan memperpanjang pelonggaran yang memungkinkan perusahaan-perusahaan Amerika untuk memasok Huawei Technologies.

Menggarisbawahi sensitivitas pasar, saham produsen cip asal Eropa, Infineon dan Siltronic, keduanya menurun sekitar 1,5 persen, mencerminkan penurunan untuk saham yang terkait cip di Asia yakni Samsung Electronics dan SK Hynix.

“Teknologi adalah jantung dari konfrontasi antara AS dan China,” tutur Hiroshi Watanabe, ekonom Sony Financial Holdings.

Sejalan dengan penurunan IHSG, nilai tukar rupiah ditutup melemah 8 poin atau 0,06 persen di level Rp14.173 per dolar AS, depresiasi hari kelima berturut-turut, di tengah aksi penghindaran risiko.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

BMRI

-1,76

TLKM

-1,15

BBRI

-0,71

HMSP

-1,29

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

UNVR

+0,53

BBCA

+0,17

BCAP

+18,42

ADRO

+2,33

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, saham global

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top