Tak Kuat Melawan Dolar AS, Rupiah Terdepresiasi Sepanjang Pekan Ini

Sepanjang pekan ini rupiah terus ditutup terdepresiasi dan telah bergerak melemah 0,83 persen.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 27 September 2019  |  18:39 WIB
Tak Kuat Melawan Dolar AS, Rupiah Terdepresiasi Sepanjang Pekan Ini
Petugas memeriksa uang di cash center'Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (15/5). - Antara/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang Garuda menutup perdagangan akhir pekan ini dengan kembali terdepresiasi masih dipicu oleh tekanan dari sentimen eksternal yang menjauhkan investor dari aset berisiko, termasuk rupiah.

Analis PT Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan bahwa pelemahan rupiah didorong oleh melonjaknya dolar AS akibat data ekonomi AS terbaru yang dirilis lebih baik daripada perkiraan pasar. Kondisi itu mendorong investor untuk mengumpulkan greenback di tengah ketakukan pasar terhadap ancaman resesi global.

“Pelemahan rupiah terimbas dari kuatnya dolar AS menjadi ancaman dan membebani pergerakan rupiah yang sesungguhnya berpotensi untuk menguat pada pekan ini,” ujar Yudi kepada Bisnis, Jumat (27/9/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (27/9/2019), rupiah berada di level Rp14.173 per dolar AS, melemah tipis 0,056% atau 8 poin. Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor bergerak menguat 0,1% menjadi 99,224.

Adapun, sepanjang pekan ini rupiah terus ditutup terdepresiasi dan telah bergerak melemah 0,83% sehingga menjadi mata uang dengan kinerja terburuk kedua di antara mata uang Asia lainnya.

Kinerja rupiah berhasil berada di atas won yang memiliki kinerja terburuk di Asia dengan melemah 0,98%, tetapi jauh di bawah rupee yang berhasil menguat 0,45% sepanjang pekan.

Ilustrasi dolar AS/JIBI

Dia mengatakan, sesungguhnya kondisi politik yang berangsur tenang pasca-demonstrasi yang berujung rusuh sejak awal pekan berpotensi untuk membawa rupiah kembali ke jalur hijau seiring dengan meningkatnya kepercayaan diri investor untuk kembali ke pasar Indonesia.

Tidak hanya itu, optimisme perundingan dagang AS dan China juga berpotensi untuk mendorong rupiah bergerak menguat. Namun, pergerakan rupiah terpaksa menjadi terbatas akibat penguatan greenback tersebut menjadi sentimen yang lebih dominan.

Yudi mengatakan bahwa rupiah masih memiliki potensi untuk menguat pada perdagangan pekan depan, dengan kisaran pergerakan di sekitar Rp14.000 per dolar AS hingga Rp14.270 per dolar AS.

Sementara itu, untuk perdagangan Senin (30/9/2019) rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp14.100 per dolar AS hingga Rp14.225 per dolar AS.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi saat mengumumkan penyelidikan untuk pemakzulan Presiden AS Donald Trump, Selasa (24/9/2019)

Di sisi lain, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa dolar AS berhasil menguat cukup baik meskipun kondisi politik dalam negeri AS sedang tidak dalam suasana kondusif.

House of Representative AS merilis laporan pengaduan yang menuduh Presiden AS Donald Trump berusaha meminta Presiden Ukraina untuk menyelidiki putra mantan Wakil Presiden Joe Biden, yang merupakan salah satu kandidat teratas untuk pemilihan presiden 2020. Hal tersebut dianggap telah merusak keamanan nasional dan melanggar Konstitusi AS.

“Pasar juga mencerna penyelidikan impeachment yang diluncurkan ke AS Presiden Donald Trump dan investor semakin melihat penyelidikan sebagai hambatan jangka panjang daripada risiko jangka pendek,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Jumat (27/9/2019).

Selain itu, Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebelumnya sebesar 5,2% menjadi 5,1% seiring dengan melambatnya ekonomi global akibat perang dagang AS dan China yang berkelanjutan dan Brexit.

Ibrahim juga mengatakan bahwa September yang merupakan akhir dari kuartal ketiga akan menjadi bulan ketika banyak perusahaan baik yang terdaftar di bursa maupun lainnya harus membayar dividen dan membayar hutang jangka pendek.

“Sehingga wajar kalau rupiah terkoreksi, karena kebutuhan dolar AS kembali tinggi,” ujar Ibrhaim.

Dia memprediksi pada perdagangan Senin (30/9/2019), rupiah masih akan melemah akibat data eksternal yang masih mendominasi terutama di AS dan Inggris sehingga mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp14.065 per dolar AS hingga Rp14.200 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kurs, Rupiah

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top