Bursa Asia Melemah, Saham Tambang Angkat Stoxx Eropa

Bursa Asia melemah dan indeks futures Amerika Serikat (AS) bergerak tak tentu arah pada perdagangan siang ini, Jumat (27/9/2019), menjelang rilis data inflasi di AS.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 27 September 2019  |  15:15 WIB
Bursa Asia Melemah, Saham Tambang Angkat Stoxx Eropa
Bursa MSCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Asia melemah dan indeks futures Amerika Serikat (AS) bergerak tak tentu arah pada perdagangan siang ini, Jumat (27/9/2019), menjelang rilis data inflasi di AS.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks futures S&P 500 naik tipis 0,1 persen pada pukul 8.10 pagi waktu London (pukul 14.10 WIB). Sementara itu, indeks MSCI Asia Pacific melemah 0,6 persen dan indeks MSCI Emerging Market turun 0,4 persen

Meski demikian, indeks Stoxx Europe 600 mampu naik 0,4 persen dan indeks FTSE 100 Inggris menanjak 0,8 persen.

Saham pertambangan dan perusahaan makanan mendorong indeks Stoxx 600 Eropa ke posisi lebih tinggi. Di Asia, bursa Jepang turun tajam setelah sejumlah perusahaan diperdagangkan tanpa hak untuk pembayaran dividen berikutnya.

Sentimen untuk aset berisiko terpukul pada Kamis (26/9) di tengah drama politik yang meningkat di Washington dan pemberitaan bahwa pemerintah AS tidak akan memperpanjang pelonggaran yang memungkinkan perusahaan-perusahaan Amerika memasok Huawei Technologies.

Pada perdagangan Kamis, indeks S&P 500 ditutup turun 0,24 persen di level 2.977,62, indeks Nasdaq Composite melemah 0,58 ke level 8.030,66, dan indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun 0,3 persen di posisi 26.891,12.

Di sisi lain, mengutip sumber terkait, CNBC melaporkan bahwa perundingan perang dagang dijadwalkan akan berlangsung pada 10-11 Oktober di Washington. Sementara itu, pemerintah China menyatakan negara ini bersedia membeli lebih banyak produk AS.

Pemberitaan terkait isu perdagangan tampak terlalu beragam bagi investor untuk menunjukkan reaksi yang jelas. Perhatian pasar kini beralih pada rilis sejumlah data ekonomi di AS, termasuk inflasi.

"Perkembangan yang menguntungkan di bidang perdagangan, sekaligus menjadi katalis terbesar pada titik ini, akan mendorong ekuitas lebih tinggi,” ujar Brian Jacobsen, pakar strategi multi-aset di Wells Fargo Asset Management, kepada Bloomberg TV.

“Kita tampaknya hanya akan wait and see sampai perundingan tingkat tinggi antara AS dan China berlangsung bulan depan,” tambahnya.

Di pasar mata uang, Bloomberg Dollar Spot Index bergerak fluktuatif, nilai tukar euro terhadap dolar AS turun 0,1 persen ke level US$1,0911, sedangkan nilai tukar pound sterling melemah 0,4 persen ke US$1,2284.

Pound sterling melemah setelah pembuat kebijakan Bank of England Michael Saunders mengatakan penurunan suku bunga mungkin diperlukan bahkan jika kesepakatan Brexit diperoleh.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top