Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bursa Arab Saudi - Qatar Merosot Usai Iran Serang Israel, Investor Khawatir

Investor di Pasar Teluk, Arab Saudi dan Qatar, khawatir atas serangan Iran ke Israel. Alhasil, pasar bursa di wilayah tersebut terkoreksi.
Bendera Arab Saudi/Flag Shop
Bendera Arab Saudi/Flag Shop

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar Saham Teluk, Arab Saudi dan Qatar, mengalami penurunan pada Minggu, (14/4/2024). Indikasi awal reaksi investor terhadap serangan Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah Israel.

Indeks saham acuan Arab Saudi (.TASI) turun 1,8% di awal perdagangan sementara indeks utama Qatar (.QSI) turun 1,6%.

Serangan drone dan rudal balasan Iran sebagai respons terhadap dugaan serangan udara Israel meningkatkan ancaman konflik regional yang lebih luas. Israel melaporkan kerusakan yang tidak terlalu parah, namun kunci bagi investor adalah bagaimana konflik tersebut akan berkembang.

“Jika konflik tetap terjadi dan bukannya meningkat, maka kita mungkin akan melihat kelegaan di seluruh ekuitas bahkan jika harga minyak, emas, dolar, dan obligasi semuanya memiliki premi risiko untuk mencerminkan konflik tersebut,” kata Kepala Ekonom di Annex Wealth Milwaukee Brian Jacobson.

Dilansir dari reuters, Minggu (14/4/4/2024) Minyak mentah berjangka Brent naik 71 sen menjadi $90,45 per barel pada hari Jumat, dengan harga minggu lalu mendekati level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran bahwa Iran, produsen OPEC terbesar ketiga, akan menyerang Israel.

Sementara itu, emas naik di atas $2.400 per ounce ke rekor tertinggi pada hari Jumat, didorong oleh terus-menerusnya permintaan safe-haven.

Sejak Hamas yang didukung Iran menyerang Israel pada 7 Oktober dan Israel menginvasi Gaza sebagai balasannya, indeks saham global MSCI (.MIWO00000PUS), membuka tab baru untuk mencapai level tertinggi baru.

Indeks utama Arab Saudi telah meningkat sekitar 20% dari 8 Oktober hingga penutupan terakhirnya menjelang liburan Idul Fitri pada 4 April. Indeks acuan Qatar turun hampir 0,8% antara 8 Oktober dan penutupan terakhirnya pada 8 April.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper