Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penyebab IHSG Melemah, Saham CUAN, BBNI, ASII Terjun

IHSG ditutup melemah 1,42% atau 105,2 poin ke level 7.328,05 pada perdagangan akhir pekan.
Karyawan melintasi layar monitor perdagangan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (17/2/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melintasi layar monitor perdagangan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (17/2/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,42% atau 105,2 poin ke level 7.328,05 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (15/3/2024). Saham CUAN, ASII, hingga BBNI menjadi saham yang turun ke zona merah hari ini.

Berdasarkan data Bloomberg, sebanyak 226 saham menguat, 312 saham melemah, dan 230 saham stagnan. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran 7.308,03-7.440,78. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp11.729 triliun.

Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) menjadi salah satu saham dengan penurunan terdalam pada perdagangan hari ini. Saham CUAN ditutup turun 15,32% ke level Rp5.250.

Saham lain yang juga melemah adalah saham PT Astra International Tbk. (ASII) menjadi salah satu saham yang juga melemah dengan turun 1,90% ke level Rp5.175. 

Saham-saham lainnya yang juga turun adalah BBNI terjun 5,69%, BBRI turun 2,85%, BBCA turun 1,69%, TPIA turun 7,21%, dan ADRO turun 0,37%.

Sementara itu, saham GOTO naik ke zona hijau dengan menguat 1,43% ke level Rp71 per saham. Lalu saham TLKM naik 0,25% ke level Rp3.970, UNTR menguat 0,21% ke level Rp24.175 per saham, dan PGAS naik 3,35% ke level Rp1.235 per saham. 

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan sentimen hari ini datang dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis neraca perdagangan bulan Februari. Surplus perdagangan Indonesia menyempit tajam menjadi US$0,87 miliar pada Februari 2024 dari sebelumnya tercatat sebesar US$5,46 miliar pada bulan yang sama tahun 2023, jauh di bawah perkiraan pasar yang sebesar US$2,32 miliar. 

Ini merupakan surplus perdagangan terkecil sejak Mei lalu, karena ekspor turun sementara impor melonjak. Pengiriman menyusut 9,45% dari tahun sebelumnya, yang merupakan penurunan kesembilan bulan berturut-turut. 

Sementara itu, impor melonjak sebesar 15,84 % YoY, pertumbuhan tercepat dalam 16 bulan, melebihi perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 9,3%, didorong oleh permintaan domestik menjelang persiapan bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri.

Sentimen juga datang dari Indeks Harga Produsen (IHP) Amerika Serikat (AS) periode Februari tercatat naik 0,6% MoM, setelah sebelumnya meningkat 0,3% pada Januari, melebihi ekspektasi kenaikan 0,3%. Secara tahunan IHP melonjak 1,6%, setelah sebelumnya meningkat 1,0% di Januari. 

Hal tersebut membuat pasar bertanya-tanya apakah The Fed mungkin menunggu lebih lama dari perkiraan untuk memangkas suku bunga dan semakin mengaburkan prospek kapan The Fed dapat mulai menurunkan suku bunganya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper