Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Skenario Soft Landing Ekonomi AS Menguat, Rupiah Diproyeksi Lanjut Tertekan

Rupiah diproyeksi lanjut melemah di tengah ekspektasi pasar yang semakin kuat akan skenario soft landing ekonomi AS.
Foto gambar mata uang rupiah dengan nominal Rp100.000. - Bloomberg/Brent Lewin
Foto gambar mata uang rupiah dengan nominal Rp100.000. - Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA — Rupiah terpantau bergerak dalam tekanan pada perdagangan Senin (19/6/2023) dengan adanya penyesuaian ekspektasi di pasar global setelah the Fed merilis proyeksi ekonomi dengan kemungkinan soft landing.

Mengutip data Bloomberg, pada Senin (19/6/2023) pukul 10.15 WIB, mata uang Garuda terpantau bergerak turun 3,5 poin atau 0,6 persen ke Rp14.993 per dolar AS.

Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Indonesia Lionel Priyadi mengatakan, optimisme soft landing The Fed tercermin dalam survei konsumen yang dirilis Universitas Michigan.

Sentimen konsumen meningkat melebihi konsensus pada Juni menjadi 63,9, naik dibandingkan pada Mei 59,2 dan konsensus pada Juni di 60. Selain itu, diikuti perbaikan ekspektasi enam bulan ke depan menjadi 61,3. (May: 55.4; Cons Jun: 56.5).

Sementara itu, ekspektasi inflasi konsumen setahun ke depan turun jauh lebih rendah dari konsensus menjadi 3,3 persen, turun dari Mei 4,2 persen dan konsensus pada Juni 4,4 persen.

"Kami melihat hal ini sebagai perkembangan positif karena turunnya ekspektasi inflasi bisa menahan the Fed untuk menaikkan suku bunga pada Juli mendatang," terangnya dalam riset, Senin (19/6/2023).

Sinyal soft landing The Fed menyebabkan indeks komoditas S&P-Goldman Sachs berlanjut naik di Jumat lalu (16/6/2023) sebesar 1,7 persen. Sehingga, rugi year-to-date (ytd) harga komoditas turun menjadi -8,8 persen ytd dari -10,3 persen ytd sehari sebelumnya.

Adapun, pergerakan di pasar saham global masih cenderung mixed dengan penurunan di pasar saham Amerika Serikat dan kenaikan di pasar saham Eropa. Hal yang sama juga terjadi di pasar obligasi AS dan Eropa.

"Menurut kami kondisi ini dapat berdampak positif terhadap IHSG, tetapi pasar obligasi domestik masih akan tertekan sentimen negatif dari rilis data neraca dagang pada Mei," ungkap Lionel.

Meskipun demikian,  lanjut Lionel, kondisi di pasar obligasi domestik akan berangsur-angsur membaik menjelang lelang SBSN hari Selasa (20/6/2023).

"Kami memprediksi yield INDOGB 10 tahun masih akan tertekan sentimen negatif di rentang 6,3-4 persen hari ini, diikuti depresiasi Rupiah ke rentang Rp14.950-Rp15.050 per dolar AS," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper