Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Simak Reksa Dana yang Berpotensi Lanjut Menguat

Meredanya sentimen kenaikan suku bunga The Fed membuat prospek reksa dana cerah ke depannya.
Meredanya sentimen kenaikan suku bunga The Fed membuat prospek reksa dana cerah ke depannya.
Meredanya sentimen kenaikan suku bunga The Fed membuat prospek reksa dana cerah ke depannya.

Bisnis.com, JAKARTA — Sentimen dovish dari Bank Sentral Amerika Serikat berpeluang mengerek reksa dana beberapa waktu ke depan. Namun investor perlu tetap mewaspadai risiko inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga yang berlanjut.

Berdasarkan laporan Infovesta Utama, seluruh indeks reksa dana memperlihatkan kenaikan. Reksa dana saham tumbuh 1,2 persen sepekan terakhir, kemudian reksa dana campuran meningkat 0,65 persen. Reksa dana pendapatan tetap juga memperlihatkan pertumbuhan sebesar 0,27 persen dalam sepekan terakhir dan reksa dana pasar uang meningkat 0,10 persen.

“Ekspektasi risiko pasar terhadap krisis perbankan AS mulai mereda dan rilis FOMC Meeting yang menaikkan suku bunga FFR sesuai konsensus pasar sebesar 25 basis poin dengan potensi kenaikan hanya sekali lagi berdasar Dot Plot FOMC menjadi katalis positif pasar pekan ini,” tulis Infovesta, Senin (27/3/2023).

Direktur Panin Asset Management (Panin AM) Rudiyanto mengemukakan kenaikan reksa dana saham dipicu oleh sentimen pembagian dividen oleh sejumlah emiten berkapitalisasi besar penggerak pasar seperti perusahaan-perusahaan perbankan. Dia juga mencatat bahwa angka dividen untuk tahun buku 2022 cenderung lebih tinggi dari rata-rata historis.

“Terurainya krisis perbankan di Amerika Serikat juga membuat pasar berspekulasi penurunan suku bunga akan terjadi lebih cepat sehingga harga obligasi ikut naik,” kata Rudiyanto, Senin (27/3/2023).

Rudiyanto mengatakan reksa dana berbasis saham maupun obligasi masih berada di bawah level acuan wajar sehingga berpeluang melanjutkan penguatan. Namun dia memperingatkan soal risiko dari data inflasi dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang Lebih agresif dari perkiraan.

“Investor disarankan untuk melakukan diversifikasi aset saat berinvestasi di tengah ketidakstabilan kondisi ekonomi untuk menyeimbangkan antara faktor risiko fluktuasi harga dengan potensi keuntungan,” paparnya.

Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani berpendapat reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana pasar uang masih unggul pada tahun ini di tengah ketidakpastian pasar modal global. Di sisi lain, reksa dana saham juga cenderung masih fluktuatif.

“Kalau kita lihat obligasi domestik masih memberikan real yield yang masih menarik dibandingkan dengan mayoritas negara di kawasan Asia. Selain itu kita juga bisa berharap tingkat suku bunga akan cenderung flat dan melandai di semester kedua ini akan memberi capital gain untuk pemegang obligasi,” papar Arjun.

Co Founder dan CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra memperkirakan reksa dana saham dan obligasi berpeluang melanjutkan penguatan dengan potensi upside jauh melebihi risiko downside.

“Secara jangka pendek masih memungkinkan untuk berfluktuasi dan volatile, tetapi secara jangka panjang memiliki potensi untuk melanjutkan penguatan,” kata Guntur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper