Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sinyal Dovish The Fed Bikin Kinerja Reksa Dana Moncer Sepekan Terakhir

Seluruh indeks reksa dana memperlihatkan kenaikan dalam sepekan terakhir. Hal ini seiring Ekspektasi risiko pasar terhadap krisis perbankan AS mulai mereda.
Warga mengakses informasi tentang reksa dana di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Warga mengakses informasi tentang reksa dana di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja reksa dana memperlihatkan penguatan dalam sepekan terakhir, seiring dengan meredanya sentimen negatif dari krisis bank di Amerika Serikat dan Eropa. Nada dovish The Fed juga turut menjadi pengerek kinerja reksa dana.

Berdasarkan laporan Infovesta Utama, seluruh indeks reksa dana memperlihatkan kenaikan. Reksa dana saham tumbuh 1,2 persen sepekan terakhir, kemudian reksa dana campuran meningkat 0,65 persen. Reksa dana pendapatan tetap juga memperlihatkan pertumbuhan sebesar 0,27 persen dalam sepekan terakhir dan reksa dana pasar uang meningkat 0,10 persen.

“Ekspektasi risiko pasar terhadap krisis perbankan AS mulai mereda dan rilis FOMC Meeting yang menaikkan suku bunga FFR sesuai konsensus pasar sebesar 25 basis poin dengan potensi kenaikan hanya sekali lagi berdasar Dot Plot FOMC menjadi katalis positif pasar pekan ini,” tulis Infovesta, Senin (27/3/2023).

Kinerja reksa dana saham yang positif turut tecermin pada kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 1,26 persen secara mingguan dan ditutup ke level 6.762,25. Menguatnya indeks dipicu oleh kembalinya optimisme pasar setelah sempat terjadi aksi panic selling di tengah krisis perbankan di Amerika Serikat dan Eropa.

Investor asing tercatat kembali melakukan aksi beli bersih, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar sehingga mendorong kinerja indeks. Hal ini sejalan dengan mulai meredanya sentimen negatif dari perbankan Amerika Serikat setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen memastikan sistem perbankan US terkendali.

Dari dalam negeri, data M2 pada Februari sebesar 7,9 persen YoY memperlihatkan pelandaian dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 8,2 persen. Hal itu menandakan likuiditas perekonomian Indonesia masih terjaga.

“Sentimen positif dari domestik juga berasal dari kurs rupiah yang menguat ke level terkuatnya dalam sebulan terakhir yakni di level Rp15.189 per dolar AS atau dalam sepekan terapresiasi sebesar 175 poin.”

Sedangkan pada pasar Obligasi, dalam sepekan terakhir kinerja indeks Infovesta Govt. Bond juga menguat sebesar 0,18 persen ke level 9.799. Sepanjang 2023 atau year to date (YtD), porsi kepemilikan asing mengalami peningkatan sebesar 5,51 persen atau setara Rp804,17 triliun.

Adapun sentimen penggerak pasar obligasi yakni The Fed kembali menaikan suku bunganya sebesar 25 bps ke level 5,0 persen dan sesuai dengan konsensus pasar.  Kondisi ini membuat pasar mengekspektasikan suku bunga FFR akan mencapai level puncaknya pada kuartal II/2023.

Mengantisipasi kondisi pasar ke depan, Infovesta Utama mengatakan investor dapat melakukan aksi beli dengan katalis pembagian dividen dari beberapa perusahaan. Sementara itu di pasar obligasi, investor dapat melakukan aksi time to buy, mengingat tingkat suku bunga BI-7DRR sudah mencapai puncaknya dan suku bunga FFR mendekati level terminal rate-nya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper