Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Rupiah Dibuka Perkasa Dihadapan Dolar AS, Dekati Rp15.300

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 0,29 persen atau 44,5 poin ke level Rp15.381 per dolar AS.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 05 Desember 2022  |  09:38 WIB
Rupiah Dibuka Perkasa Dihadapan Dolar AS, Dekati Rp15.300
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penguatan pada pembukaan perdagangan Senin (5/12/2022).

Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot, Senin (5/12/2022), pukul 09.09 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 0,29 persen atau 44,5 poin ke level Rp15.381 per dolar AS.

Indeks dolar AS terpantau mengalami pelemahan sebesar 0,18 persen atau 0,192 poin ke level 104,248. Sementara itu, sejumlah mata uang Asia Pasifik juga menunjukan penguatan terhadap dolar AS, seperti mata uang China, Hong Kong, Singapura, Thailand, Myanmar yang masing-masing menguat 1,06 persen, 0,15 persen, 0,33 persen, 0,51 persen, dan 0,51 persen.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini menguat seiring prediksi Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam risetnya menjelaskan pergerakan nilai tukar rupiah akan fluktuatif pada perdagangan besok.

“Meski fluktuatif, rupiah berpeluang ditutup menguat di rentang Rp15.400 – Rp15.470,” jelas Ibrahim dalam risetnya, Minggu (4/12/2022).

Adapun pada perdagangan Jumat (2/12/2022) kemarin, rupiah ditutup naik 137 poin atau 0,88 persen menjadi Rp15.425,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS ditutup terkoreksi 0,17 persen ke level 104,545.

Ibrahim menuturkan, pergerakan nilai tukar rupiah ditopang oleh pasar yang merespon positif Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap rilis data inflasi pada November 2022 mencapai 5,42 persen (YoY). Inflasi lebih rendah dibandingkan pada Oktober yang tercatat 5,71 persen. Secara tahun kalender inflasi mencapai 4,82 persen dan dibandingkan dengan bulan sebelumnya 0,09 persen.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan catatan pada bulan lalu di mana Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,11 persen. Hasil polling juga memperkirakan inflasi secara tahunan (yoy) akan menembus 5,54 persen pada bulan ini. Sementara itu, inflasi inti diperkirakan merangkak naik menjadi 3,45 persen pada November (yoy) dibandingkan 3,31 persen pada Oktober.

“Pemerintah terus meyakinkan pasar bahwa  perekonomian nasional saat ini dalam tren positif dan masih tumbuh kuat. Dengan kemampuan itu, optimisme proses pemulihan ekonomi terus terjaga. Meski begitu, pemerintah perlu tetap waspada terhadap ancaman risiko global,” jelasnya.

Rincian tren positif ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di atas 5 persen selama 4 triwulan berturut-turut, bahkan pada Triwulan Ketiga 2022 mencapai 5,72 persen (YoY). Selain itu, inflasi mulai menunjukkan penurunan ke level 5,71 persen (YoY) di bulan Oktober, dan relatif moderat dibandingkan negara-negara lain.

Bank Indonesia juga terus melakukan bauran strategi ekonomi guna untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah serta terus melakukan intervensi besar di pasar valuta asing, obligasi di perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).

Walaupun berimbas terhadap menurunnya cadangan devisa, namun langkah BI sudah sesuai dengan regulasi yang bertujuan untuk menahan pelemahan mata uang rupiah akibat kenaikan inflasi global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rupiah dolar as badan pusat statistik valuta asing
Editor : Ibad Durrohman
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top