Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Akhir Pekan Rupiah Dibuka Menguat ke Rp15.437, Terimbas Isyarat Suku Bunga The Fed

Rupiah dibuka menguat ke Rp15.437 pada pembukaan perdagangan, Jumat (2/12/2022). Penguatan rupiah terdorong sentimen suku bunga The Fed.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 02 Desember 2022  |  09:55 WIB
Akhir Pekan Rupiah Dibuka Menguat ke Rp15.437, Terimbas Isyarat Suku Bunga The Fed
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Mata uang rupiah dibuka menguat pada perdagangan Jumat (2/12/2022) seiring dengan indeks dolar AS yang juga menguat.

Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 125 poin atau 0,80 persen ke Rp15.437,50 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,09 persen ke 104,81.

Rupiah dibuka menguat bersama mayoritas mata uang di Asia seperti yen Jepang menguat 0,10 persen, dolar Taiwan menguat 0,13 persen, peso Filipina menguat 0,26 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,20 persen.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan hari ini mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup menguat direntang Rp15.540-Rp15.590.

Ibrahim mengatakan sebelumnya dolar sempat tergelincir setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral kemungkinan akan memperlambat laju kenaikan suku bunga di masa depan.

Powell mengisyaratkan kenaikan suku bunga yang lebih kecil. Dia juga memperingatkan bahwa suku bunga AS akan mencapai puncaknya pada tingkat yang lebih tinggi dari perkiraan, karena inflasi yang membandel.

Komentar dari anggota The Fed dalam beberapa pekan terakhir memperkuat anggapan bahwa kenaikan suku bunga di masa depan akan bergantung pada jalur inflasi.

Sementara dari dalam negeri, sentimen datang dari pemerintah yang meyakini bahwa Indonesia kebal terhadap resesi global yang diprediksi akan terjadi di tahun 2023. Hal ini karena tingkat konsumsi dalam negeri yang cukup besar.

Selain itu, Bank Indonesia juga merasa optimistis bahwa perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 4,5 persen hingga 5,3 persen pada 2022 di tengah tantangan risiko resesi yang menghantam dunia.  

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rupiah dolar as jerome powell Resesi Kebijakan The Fed
Editor : Ibad Durrohman
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top