Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Siasat Jababeka (KIJA) Hindari Gagal Bayar Global Bond US$300 Juta

Kondisi atau syarat minimum jumlah partisipasi pemegang obligasi KIJA yang bersedia untuk menukar surat utangnya, belum terpenuhi.
Kawasan Industri Jababeka di Cikarang, Kabupaten bekasi, Jawa barat./Istimewa
Kawasan Industri Jababeka di Cikarang, Kabupaten bekasi, Jawa barat./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) tengah berupaya menukar obligasi global US$300 juta yang jatuh tempo 5 Oktober 2023 dengan obligasi baru. Namun, aksi penukaran ini tampak belum mendapat lampu hijau sepenuhnya dari para pemegang obligasi.

Berdasarkan pengumuman KIJA di Bursa Efek Singapura (SGX), Selasa (29/11/2022), KIJA telah mengantongi persetujuan dari sebagian pemegang obligasi lama selama periode penawaran awal (early consent) hingga tenggat 5.00 PM waktu New York pada 25 November 2022.

Kendati demikian kondisi atau syarat minimum jumlah partisipasi pemegang obligasi yang bersedia untuk menukar surat utangnya, belum terpenuhi. Oleh karena itu, KIJA masih melanjutkan proses penawaran penukaran obligasi 2023 hingga 7 Desember 2022.

Para dealer manager yang bertindak menangani penukaran obligasi global KIJA adalah J.P. Morgan Securities plc, Mandiri Securities Pte. Ltd., Standard Chartered Bank (Singapore) Limited atau UBS AG Cabang Singapura. 

Adapun dua lembaga pemeringkat internasional sebelumnya langsung menurunkan peringkat KIJA saat perseroan mengumumkan rencana tender offer obligasi 2023 pada 17 November 2022.

S&P Global Ratings memberi nilai “tertekan” atau “distressed” pada langkah emiten bersandi KIJA ini, dan memperingatkan bahwa para pemegang saham kemungkinan tidak akan diberi kompensasi yang memadai. Sementara itu, Fitch Ratings mengatakan penukaran obligasi tersebut dilakukan untuk menghindari default.

Fitch Ratings juga telah memangkas peringkat Jababeka lebih jauh ke wilayah tingkat spekulatif, menjadi C dari CC.

Penukaran obligasi yang diusulkan juga datang di tengah meningkatnya tanda-tanda kekhawatiran pendanaan di antara pengembang di Indonesia. Pasalnya, kenaikan suku bunga menekan permintaan akan properti dan mendorong biaya pembayaran utang. Kesulitan-kesulitan itu diperparah oleh dolar AS yang terus menguat.

Mengutip Bloomberg pada Jumat (18/11/2022), kondisi perusahaan real estat umumnya menjadi cerminan awal krisis keuangan. Bagi sejumlah investor langkah KIJA menawarkan penukaran obligasi membawa kembali kenangan akan KIJA yang pernah nyaris gagal bayar sebelum pandemi lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper