Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dibuka Melemah Imbas Naiknya Kasus Covid-19 di China

China saat ini tengah menghadapi rekor tertinggi dalam kasus Covid-19 harian, yang membuat pemerintahnya menerapkan kembali pembatasan ketat di beberapa kota.
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS dibuka  melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (28/11/2022).

Mengutip data Bloomberg pukul 09.01 WIB, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,37 persen atau turun 58,5 poin dan membawanya ke posisi Rp15.728 per dolar AS. Adapun indeks dolas AS terpantau menguat 0,48 persen atau 0,48 poin ke posisi 106,420.

Sejumlah mata uang di kawasan Asia Pasifik tercatat melemah terhadap dolar AS, di antaranya Yen Jepang sedikit melemah 0,1 persen menjadi 139,27 per dolar.

Dolar Singapura turun 0,28 persen, dolar Taiwan turun 0,45 persen, won Korea Selatan turun 1,08 persen, Rupee India turun 0,07persen, Yuan Cina turun 0,73 persen, baht Thailand turun 0,65 persen. Hanya Ringgit Malaysia yang terpantau menguat 0,25 persen ke posisi 4.484.

Sebelumnya, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan pada awal pekan, Senin (28/11/2022) mata uang rupiah dibuka berfluktuatif. Namun, rupiah juga akan ditutup melemah direntang Rp15.650 hingga Rp15.700.

Hal tersebut berkaitan dengan sentimen memburuknya kondisi Covid-19 di China. China saat ini tengah menghadapi rekor tertinggi dalam kasus Covid-19 harian, yang membuat pemerintahnya menerapkan kembali pembatasan ketat di beberapa kota besar.

Sementara itu, dari Amerika Serikat, risalah pertemuan November The Fed menunjukkan bank sentral tengah mempertimbangkan laju kenaikan suku bunga tahun ini.

Pasar mengharapkan bank untuk menaikkan suku bunga sebesar 50 bps pada Desember, meskipun kenaikan suku bunga selanjutnya ditentukan oleh inflasi AS.

Dari dalam negeri, sentimen datang dari kinerja pemulihan ekonomi yang terus berjalan dan cukup kuat di tengah pandemi Covid-19. Pemulihan ini salah satunya ditopang oleh kinerja ekspor.

"Dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi, akan membawa aliran dana asing Kembali masuk ke pasar finansial dalam negeri sehingga akan berdampak terhadap penguatan nilai mata uang rupiah," ujar Ibrahim dalam risetnya, dikutip Senin (28/11/2022).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper