Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Anjlok, Hawkish The Fed Nyalakan Lagi Sinyal Resesi

Indeks S&P 500 mengalami penurunan keempat berturut-turut, terseret oleh saham teknologi besar karena imbal hasil obligasi pemerintah atau Treasury AS naik.
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle
Karyawan berada di Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (27/6/2022). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street, New York berakhir jatuh sebelum data tenaga kerja dirilis pada akhir pekan. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa resesi yang lebih dalam dapat terjadi dengan Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mendinginkan inflasi.

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (4/11/2022), indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,46 persen atau 146,51 poin ke 32.001,25, S&P 500 anjlok 1,06 persen atau 39,80 poin ke 3.719,89, dan Nasdaq tergelincir 1,73 persen atau 181,86 poin ke 10.342,94.

Indeks S&P 500 mengalami penurunan keempat berturut-turut, terseret oleh saham teknologi besar karena imbal hasil obligasi pemerintah atau Treasury AS naik.

Saham Apple Inc. anjlok lebih dari 4 persen dan Amazon.com Inc. mengalami penurunan terpanjang sejak 2019. Segmen kunci dari kurva Treasury mencapai inversi ekstrem baru, menyentuh level yang tidak terlihat sejak 1980-an ketika The Fed secara agresif melakukan pengetatan. Inversi kurva memiliki rekam jejak penurunan ekonomi sebelumnya.

Swap yang merujuk pada pertemuan Fed di masa depan menunjukkan tingkat suku bunga puncak yang diharapkan di atas 5,1 persen sekitar pertengahan 2023. Perkiraan tersebutr sempat turun di bawah 5 persen pada Rabu (3/11/2022). Adapun suku bunga acuan The Fed saat ini berada di kisaran 3,75 persen hingga 4 persen.

Sementara itu proyeksi menunjukkan pertumbuhan gaji Oktober moderat ke 198.000, peningkatan seperti itu masih akan lebih tinggi dari kecepatan bulanan di bawah 100.000 yang menurut ekonom tidak terlalu kuat atau terlalu lemah untuk ekonomi dalam jangka panjang.

Pengajuan untuk asuransi pengangguran melayang di sekitar level terendah secara historis, memperkuat apa yang digambarkan Ketua The Fed Jerome Powell sebagai pasar kerja yang “terlalu panas.”

Menurut Mark Haefele, kepala investasi di UBS Global Wealth Management, pelaku pasar seharusnya lebih peduli dengan tingkat tertinggi dari suku bunga daripada kecepatan pengetatan moneter The Fed.

“The Fed, bersama dengan bank sentral utama lainnya, tampaknya akan mempertahankan pengetatan suku bunga hingga kuartal pertama tahun 2023. Pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan terus melambat hingga awal tahun baru, dan pasar keuangan global rentan terhadap tekanan sementara kebijakan moneter terus diperketat. Tantangan seperti itu belum sepenuhnya tercermin dalam estimasi pendapatan atau penilaian ekuitas,” kata Haefele.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper