Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Telur Naik, Bos Widodo Makmur Lego 217 Juta Saham WMPP

Dirut emiten unggas Widodo Makmur (WMPP) Tumiyana melepas kepemilikan 0,73 persen kepemilikan sahamnya.
Manajemen Widodo Makmur Perkasa Holding dan Manajemen Fuji Electric berpose usai meneken kesepakatan awla kerja sama pembangunan pabrik pakan Ngawi di Jakarta, (8/7/2020)./widodomakmur
Manajemen Widodo Makmur Perkasa Holding dan Manajemen Fuji Electric berpose usai meneken kesepakatan awla kerja sama pembangunan pabrik pakan Ngawi di Jakarta, (8/7/2020)./widodomakmur

Bisnis.com, JAKARTA — Direktur utama emiten unggas PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. (WMPP), Tumiyana, terpantau melepas saham WMPP seiring harga telur yang kini melambung tinggi.

Data terbaru PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Rabu, (24/8/2022) menyebutkan Tumiyana melego saham perusahaan unggas yang dirintisnya sejak 1995 tersebut sebanyak 217 juta saham.

Kepemilikan saham WMPP yang digenggam Tumiyana pun menurun, dari 24,69 persen atau setara 7,26 miliar saham menjadi 7,04 miliar saham atau setara 23,96 persen.

Sebelumnya, berdasarkan laporan kepemilikan saham WMPP periode April 2022, Tumiyana menjadi pengendali dengan porsi kepemilikan mencapai 23,9 miliar atau 81,24 persen.

Tumiyana diketahui sebagai Direktur Utama Widodo Makmur Perkasa, sekaligus founder yang sebelumnya sempat menjabat di dua perusahaan pelat merah dengan pengalaman lebih dari 30 tahun.

Pada perdagangan Bursa Efek Indonesia hari ini, Rabu (24/8/2022) saham WMPP ditutup di zona merah, turun 1,15 persen ke level Rp172 per lembar sahamnya.

Sejak awal Agustus 2022, saham WMPP reli dari posisi harga Rp131 per sahamnya, dan sempat mencapai posisi puncak Rp197 atau all time high pada Selasa, (16/8/2022) naik 50,3 persen dalam waktu dua pekan.

Kendati demikian, secara year-to-date (ytd), saham WMPP hanya berhasil naik 10,97 persen dari level harga Rp155.

Emiten unggas seperti WMPP saat ini mendapat sentimen negatif dari harga telur ayam yang melambung tinggi mencapai Rp35.000 per kilogram.

Harga telur yang mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah ini disebabkan terbatasnya populasi ayam petelur dalam negeri yang berimbas pada biaya produksi yang semakin bengkak.

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, dari sisi produktivitas telur ayam dan komoditas ayam dinilai cukup baik.

“Bagaimana mengatur supply and demand, tidak di saya, saya fokus pada produktivitas dan produktivitas [telur ayam] sangat aman,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper