Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bye Dolar AS! Yen dan Franc Menguat Dipicu Komentar Hawkish Jerome Powell

Penguatan dua mata uang safe-haven ini didorong oleh ketika sentimen kegelisahan investor tentang Federal Reserve yang tiba-tiba hawkish dan dapat memberikan kenaikan suku bunga agresif.
Mata uang yen Jepang dan Dollar AS./Bloomberg
Mata uang yen Jepang dan Dollar AS./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Dua mata uang safe-haven, yen Jepang dan franc Swiss, terapresiasi pada akhir perdagangan Rabu pagi (1/12/2021) di Asia. Penguatan keduanya didorong oleh ketika sentimen kegelisahan investor tentang Federal Reserve yang tiba-tiba hawkish dan dapat memberikan kenaikan suku bunga agresif.

Selain itu, kekhawatiran tentang varian baru virus Corona, Omicron juga mendorong pembelian terhadap mata uang safe-haven ini. Dolar AS melemah pada Selasa (30/11/2021) setelah naik ketika Ketua Fed Jerome Powell mengatakan risiko inflasi telah meningkat dan menyatakan untuk menghentikan istilah sementara guna menggambarkan lonjakan harga.

Dia juga mendorong percepatan pengurangan pembelian aset Fed. Komentarnya menunjukkan urgensi untuk melakukan tindakan kebijakan moneter cepat yang pasar keuangan mungkin tidak siap, kata para analis.

"Secara keseluruhan, risiko terhadap prospek jangka pendek terus meningkat. Investor selalu memandang The Fed sebagai jaring pengaman, tetapi Fed terlihat panik di sini," kata Edward Moya, Analis Pasar Senior, di OANDA.

"The Fed salah dalam inflasi. Dan sekarang tampaknya mereka akan terburu-buru melakukan tapering dan dengan cepat memberikan kenaikan suku bunga. Jika tekanan inflasi tetap ada, Anda bisa melihat siklus kenaikan suku bunga yang dipercepat yang dapat mengancam kondisi keuangan," katanya lagi.

Pada akhir perdagangan, dolar AS turun 0,4 persen terhadap yen menjadi 113,065 yen. Terhadap franc Swiss, dolar AS turun 0,4 persen menjadi 0,9185 franc.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya turun 0,3 persen menjadi 95,90. Indeks dolar reli di awal sesi, sementara saham AS jatuh, setelah pernyataan hawkish Powell.

"Pedagang dalam mode 'jual dulu dan ajukan pertanyaan nanti'," kata Kepala Strategi Pasar di Cambridge Global Payments Karl Schamotta.

Sebelumnya, yen dan franc Swiss naik terhadap dolar, setelah CEO Moderna mengatakan vaksin virus Corona kemungkinan akan kurang efektif terhadap varian Omicron karena mereka telah melawan varian lain.

Menambah ketakutan, pembuat obat Regeneron Pharmaceuticals Inc mengatakan pada Selasa (30/11/2021) bahwa pengobatan antibodi Covid-19 mungkin kurang efektif terhadap Omicron.

Peringatan tersebut memperkuat pandangan bahwa ekonomi global dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke tingkat sebelum pandemi daripada yang diperkirakan banyak orang.

Terhadap dolar AS, euro menguat 0,4 persen menjadi US$1,1335, membukukan kenaikan beruntun tiga hari terbesar sejak Desember 2020.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper