Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pertumbuhan Mitra Bukalapak Capai 569 Persen, Pimpin Pasar O2O

Mitra Bukalapak memimpin penetrasi online to offline (o2o) di Indonesia sebesar 42 persen.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 21 September 2021  |  17:41 WIB
Direktur Utama PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) Rachmat Kaimuddin dan Komisaris Utama Bukalapak Bambang P.S. Brodjonegoro menunjukkan sertifikat pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia, Jumat (6/8/2021) - Istimewa
Direktur Utama PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) Rachmat Kaimuddin dan Komisaris Utama Bukalapak Bambang P.S. Brodjonegoro menunjukkan sertifikat pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia, Jumat (6/8/2021) - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten teknologi PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) mengalami pertumbuhan jumlah mitra sebesar 569 persen sejak 2018.

Emiten berkode saham BUKA itu mencatatkan jumlah mitra sebanyak 1,3 juta pada 2018. Jumlah itu bertumbuh hingga 8,7 juta pada semester I/2021. Direktur Bukalapak.com Teddy Oetomo mengatakan berdirinya Mitra Bukalapak dilatarbelakangi oleh masih banyaknya UMKM yang belum terdigitalisasi.

“Pada 2017, Bukalapak meluncurkan Mitra Bukalapak guna membantu warung tradisional bersaing di era digitalisasi dengan usaha retail modern,” katanya dalam keterangan resmi Selasa (21/9/2021).

Menurutnya dengan Mitra Bukalapak, warung-warung tradisional kini dapat menawarkan layanan online tambahan seperti pembayaran tagihan dan isi ulang pulsa kepada para pelanggan.

Riset Nielsen yang dilakukan pada Juni 2021 terhadap 3.000 warung dan kios pulsa menemukan bahwa di antara 14 kota di seluruh Indonesia, Mitra Bukalapak memimpin penetrasi online to offline (o2o) sebesar 42 persen.

“Saat ini jumlah penetrasi BUKA paling tinggi dibandingkan kompetitor yang ada,” tegas Teddy.

Mitra Bukalapak memimpin penetrasi di kategori bahan makanan sebesar 55 persen dan penetrasi produk virtual sebesar 52 persen. Menurut Teddy dengan angka tersebut, Mitra Bukalapak saat ini sejalan dengan tujuan digitalisasi pasar konvensional Indonesia.

Sebagai informasi di Indonesia, berdasarkan data dari laporan “E-warung, Indonesia’s New Digital Battleground” yang dirilis grup CLSA Ltd pada September 2019, 70 persen dari total penjualan ritel di Indonesia masih dilakukan secara offline dimana 65 persen di antara dilayani oleh warung.

Sebelumnya, Analis Sucor Sekuritas Paulus Jimmy merekomendasikan beli bagi Bukalapak dengan target harga sebesar Rp1.435 per saham. Paulus berharap BUKA bisa membukukan laba bersih pada 2025 dengan pertumbuhan TPV yang dinormalisasi sekitar 32 persen setelahnya.

“Kami memperkirakan BUKA akan secara bertahap meningkatkan take-rate menjadi 1,8 persen pada 2023 dari 1,3 persen pada 2020 terutama didorong dari bisnis e-commerce,” sebutnya.

Pada penutupan perdagangan Selasa (21/9/2021), saham BUKA naik 0,59 persen atau 5 poin menjadi Rp850. Harga tersebut sama dengan harga pelaksanaan IPO. Kapitalisasi pasar BUKA mencapai Rp87,6 triliun.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teknologi Kinerja Emiten bukalapak online to offline atau o2o
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top