Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Logam Industri Naik, Saham Emiten Kabel Layak Koleksi?

BCA Sekuritas merekomendasikan investor masih bisa membeli secara selektif saham-saham emiten kabel.
Annisa Saumi
Annisa Saumi - Bisnis.com 16 September 2021  |  16:04 WIB
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Harga sejumlah logam industri tercatat masih mengalami penguatan. Sentimen harga komoditas ini diperkirakan dapat menjadi katalis positif dan berdampak ke emiten sektor kabel.

Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki mengatakan, kenaikan harga tambang seperti tembaga dan mineral lainnya, bisa menaikan harga pokok penjualan (hpp) emiten-emiten kabel cukup besar.

"Potensi bisa menggerus gross margin dari emiten-emiten kabel ini," kata Yaki saat dihubungi Bisnis, Kamis (16/9/2021).

Yaki menyarankan investor untuk berhati-hati terhadap saham-saham emiten sektor ini. Namun, untuk jangka panjang, BCA Sekuritas menyampaikan investor masih bisa membeli secara selektif saham-saham di sektor ini.

"Untuk jangka panjang masih menarik untuk buy on support secara selektif, terutama yang punya kontrak kerja sama dengan pembagkit listrik, PLN, dan dengan pengembang properti," ujarnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, beberapa emiten kabel di BEI mencatatkan penjualan ke PLN. PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk. (SCCO) dalam laporan keuangan semester I/2021 menyebutkan, melakukan penjualan sebesar Rp241,8 miliar ke PLN.

Angka penjualan ke PLN ini tercatat turun 39 persen dibandingkan Juni 2020 yang sebesar Rp396,6 miliar. Berdasarkan laporan keuangannya, hingga 30 Juni 2021, SCCO mendapatkan kontrak senilai Rp12,72 miliar dari PLN. Kontrak ini jauh berkurang dibandingkan dengan Juni 2020, yaitu sejumlah Rp756,3 miliar.

Sama seperti SCCO, penjualan PT Voksel Electric Tbk. (VOKS) ke PLN tercatat turun 33,2 persen menjadi Rp119,86 miliar pada paruh pertama 2021, dari Rp179,5 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Dalam keterangan resminya, VOKS menyampaikan akan terus menjalankan komitmen untuk mendukung Proyek Strategis Nasional bidang Energi, sebagai bagian dari Mega Proyek 35.000 MW PLN.

Berbeda dengan dua emiten di atas, PT KMI Wire and Cable Tbk. (KBLI) dan PT Kabelindo Murni Tbk. (KBLM) dalam laporan keuangan semester I/2021 mencatatkan tidak lagi mendapatkan penjualan dari PLN.

Adapun pada paruh pertama 2020, KBLI mencatatkan penjualan sebesar Rp143,4 miliar dari PLN, sedangkan KBLM mendapatkan penjualan sebesar Rp54,7 miliar dari PLN.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pt supreme cable manufacturing & commerce tbk (scco) voksel electric logam industri Harga Logam
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top