Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Prodia (PRDA) Siapkan Belanja Modal Rp300 Miliar, Pacu Pengembangan Digital

Presiden Direktur Prodia Dewi Muliaty menuturkan besaran capex perseroan pada 2021 kurang lebih sama dengan yang dikeluarkan pada 2020. Belanja modal diarahkan untuk pengembangan layanan digital, hingga relokasi klinik laboratoriumnya.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 01 Februari 2021  |  15:13 WIB
Grand Launching Kontak Prodia di Bandung/Bisnis - Dara Aziliya
Grand Launching Kontak Prodia di Bandung/Bisnis - Dara Aziliya

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten layanan kesehatan PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure hingga Rp300 miliar. Belanja tersebut difokuskan untuk pengembangan layanan berbasis digital.

Presiden Direktur Prodia Dewi Muliaty menuturkan besaran capex perseroan pada 2021 kurang lebih sama dengan yang dikeluarkan pada 2020. Belanja modal diarahkan untuk pengembangan layanan digital, hingga relokasi klinik laboratoriumnya.

"Kurang lebih sama dengan tahun sebelumnya yaitu sekitar Rp250 miliar-Rp300 miliar. Pada tahun 2020, sebagian besar alokasi penggunaan capex tersebut difokuskan untuk development tes COVID-19, pengembangan layanan berbasis digital, optimalisasi penggunaan teknologi, dan memastikan kebersihan, keamanan dan kenyamanan bagi seluruh pelanggan dan karyawan di seluruh Indonesia," ujarnya kepada Bisnis, Senin (1/2/2021).

Sementara itu, alokasi capex pada 2021 memfokuskan untuk peningkatan kualitas layanan, pengembangan layanan berbasis digital, dan modal kerja serta untuk relokasi dan renovasi untuk meningkatkan kualitas layanan bagi pelanggan Prodia.

Adapun, dari sisi rencana penambahan jaringan klinik laboratorium, emiten bersandi PRDA ini masih meninjau kembali rencana tersebut. Pasalnya, jumlah klinik yang saat ini ada dianggap sudah mencukupi.

Pada 2020, Prodia hanya membuka 1 cabang di Bitung. Hingga 31 Desember 2020, Prodia telah memiliki 267 outlet layanan di 127 kota di 34 provinsi di Indonesia.

"Melihat situasi seperti ini, kami menilai belum cukup efektif jika dibuka cabang baru dan kami menilai bahwa ternyata dengan penggunaan digital platform ini cukup membantu meningkatkan pendapatan kami. Rencana ekspansi masih tetap akan kami tinjau terlebih dahulu," paparnya.

Baru-baru ini, emiten klinik laboratorium tersebut menghadirkan pemeriksaan Anti SARS-CoV-2 Kuantitatif (Spike-Receptor Binding Domain/Spike-RBD) untuk mengukur titer antibodi terhadap virus COVID-19.

Pemeriksaan ini berfungsi sebagai baseline kuantitatif antibodi terhadap SARS COV-2 untuk mengevaluasi respons imun individu terhadap virus SARS-CoV-2, sehingga memungkinkan dokter menilai perubahan relatif respons imun individu terhadap virus dari waktu ke waktu dalam bentuk numerik.

Pemeriksaan ini dapat dimanfaatkan oleh seseorang yang pernah didiagnosa terkena Covid-19 untuk melihat seberapa besar antibodi yang ada di dalam tubuhnya.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan per September 2020, emiten berkode saham PRDA tersebut berhasil mencetak laba tahun berjalan sebesar Rp122,28 miliar, naik tipis 1,08 persen secara tahunan.

Kendati demikian, pendapatan perseroan sebenarnya menurun 2,97 persen secara tahunan menjadi Rp1,2 triliun.

Memang, beban usaha perseroan mengalami penurunan hingga 13,13 persen menjadi Rp533,54 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp614,18 miliar.

Penurunan beban usaha, lanjut perseroan, didukung oleh upaya efisiensi yang dilakukan perseroan secara bijaksana tanpa mengurangi kualitas pelayanan dan produk tes laboratorium yang diberikan dan dengan tetap memperhatikan pengembangan nilai dan inovasi pasca pandemi oleh Perseroan.

Pemanfaatan teknologi juga dilakukan guna meningkatkan layanan bagi pelanggan di tengah situasi pandemi ini terutama dalam merespon kebutuhan pelanggan untuk tes Covid-19 mulai dari rapid test, tes serologi antibodi EIA, sampai PCR Covid-19.

Dari segi segmen pelanggan, segmen pelanggan individu dan rujukan dokter menyumbang sekitar 62,7 persen kepada pendapatan perseroan. Sedangkan, segmen referensi pihak ketiga dan klien korporasi menopang sekitar 37,3 persen terhadap pendapatan perseroan.

Pada kuartal ketiga 2020, total aset perseroan sebesar Rp2,07 triliun, yang terdiri dari aset lancar Rp1,19 triliun dan aset tidak lancar menjadi Rp880,43 miliar. Sedangkan, total liabilitas menjadi Rp401,62 miliar, yang terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp157,84 miliar dan liabilitas jangka panjang Rp 243,79 miliar.

Total ekuitas perseroan mengalami sedikit kenaikan menjadi Rp1,67 triliun. Dari sisi arus kas, Prodia berhasil mempertahankan arus kas bersih dari aktivitas operasi per 30 September 2020 dalam posisi surplus menjadi sebesar Rp269,99 miliar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

belanja modal prodia laboratorium
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top