Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham Teknologi Tenggelam, Investor Hong Kong Incar Saham Perbankan

Saham sektor finansial menjadi pendorong terbesar pada indeks Hang Seng pada Kamis (7/1/2021), dipimpin oleh saham HSBC Holdings Plc yang menguat 5,5 persen
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  11:02 WIB
 Gedung HSBC di London, Inggris, Rabu (8/8/2018). - Reuters/Hannah McKay
Gedung HSBC di London, Inggris, Rabu (8/8/2018). - Reuters/Hannah McKay

Bisnis.com, JAKARTA – Investor Hong Kong beralih ke saham-saham perbankan setelah sejumlah saham yang biasanya menjadi andalan seperti perusahaan telekomunikasi China hingga Tencent Holdings Ltd. berbalik melemah.

Dilansir dari Bloomberg, saham sektor finansial menjadi pendorong terbesar pada indeks Hang Seng pada Kamis (7/1/2021), dipimpin oleh saham HSBC Holdings Plc yang menguat 5,5 persen menyusul reli 10 persen di bursa London sehari sebelumnya. Sementara itu, saham Standard Chartered Plc naik 7,7 persen.

Di sisi lain, saham Alibaba Group Holding Ltd. turun 5,9 persen dan Tencent melemah 4,4 persen di Hong Kong, menysuul laporan bahwa pemerintahan Trump mempertimbangkan pelarangan investasi di dua perusahaan paling berharga di dunia tersebut.

"Orang-orang mengalihkan uang mereka, ada begitu banyak masalah dan ketidakpastian untuk pertumbuhan saham saat ini," kata direktur eksekutif penelitian Kingston Securities Ltd Dickie Wong, seperti dikutip Bloomberg.

Ia menambahkan, saham bank saat ini menawarkan tempat berlindung dari regulasi dan ketegangan politik baru-baru ini.

Salah satu faktor di balik kenaikan HSBC adalah lonjakan imbal hasil surat utang AS, dengan suku bunga 10 tahun minggu ini naik ke level tertinggi sejak Maret. Perusahaan keuangan sebelumnya tertekan karena suku bunga rendah dan pelonggaran kuantitatif dari bank sentral di seluruh dunia menekan imbal hasil obligasi di hampir semua tenor.

Pemberian pinjaman cenderung menjadi lebih menguntungkan bagi bank ketika kurva imbal hasil curam, atau imbal hasil obligasi dengan tenor lebih panjang menguat dibandingkan dengan obligasi dengan tempo yang lebih pendek.

 “Kurva imbal hasil yang semakin curam menciptakan lingkungan yang baik bagi bank-bank seperti HSBC,” kata direktur manajemen aset di Ample Capital Ltd Alex Wong.

“Setelah reli baru-baru ini, masih ada ruang bagi HSBC untuk naik lebih jauh karena harga sahamnya juga terlalu rendah dan investor sekarang bertaruh pada pemulihan ekonomi,” lanjutnya.

Margin bunga bersih HSBC, yang menjadi ukuran utama profitabilitas pinjaman, hanya 1,2 persen pada kuartal ketiga tahun lalu, turun 13 basis poin dari periode sebelumnya.

Laba pada periode tersebut turun 6 persen, menurut pembaruan pendapatan pada Oktober. Bank mengatakan pada saat itu bahwa suku bunga rendah yang berkepanjangan kemungkinan akan memiliki dampak yang signifikan pada pendapatan bunga bersihnya.

Wong mengatakan sentimen terhadap saham juga membaik karena investor mengantisipasi pembelian kembali saham tahun ini. HSBC diperkirakan menggelontorkan hingga US$3,5 miliar antara tahun ini dan tahun depan untuk melakukan buyback.

Saham HSBC naik 54 persen dari  level terendah 25 tahun di bulan September. Rebound terjadi setelah berbulan-bulan ketidakpastian bagi bank, karena investor khawatir mengenai memuncaknya tekanan peraturan, ekonomi, dan geopolitik akan mempengaruhinya.

Sejak itu, harapan bahwa perubahan kepresidenan AS akan meredakan ketegangan antara Washington dan Beijing, dan tanda-tanda bahwa regulator Inggris akan melunakkan sikap mereka terhadap larangan dividen, telah membantu memicu optimisme.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hong kong hsbc indeks hang seng
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top