Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mogok Kerja di Norwegia Batal, Harga Minyak Mendingin Lagi

Berdasarkan data Bloomberg pada Sabtu (10/10/2020), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman November turun 59 sen menjadi US$40,60 per barel. Pekan ini, harga minyak WTI naik 9,6 persen.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 10 Oktober 2020  |  08:00 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah mendingin lagi setelah pekerja di Norwegia membatalkan aksi mogok dan laju Badai Delta mulai melambat.

Berdasarkan data Bloomberg pada Sabtu (10/10/2020), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman November turun 59 sen menjadi US$40,60 per barel. Pekan ini, harga minyak WTI naik 9,6 persen.

Sementara harga minyak Brent kontrak pengiriman Desember melemah 49 sen menjadi US$42,85 per barel pada akhir sesi. Selama sepekan, harga minyak Brent melesat 9,1 persen.

Adapun, pekerja di Norwegia membatalkan aksi mogok yang telah mengurangi sekitar 8 persen produksi minyak mentah di sana.

Pembatalan mogok itu berpeluang membuka kembali operasional kilang dan produksi di enam ladang minyak Norwegia. 

Tak hanya itu, Johan Sverdrup yaitu fasilitas produksi minyak terbesar di Norwegia yang memproduksi 460.000 barel minyak per hari juga dipastikan terhindar dari penutupan.

Direktur Tradition Energy Gary Cunningham menilai apabila mogok kerja itu berlangsung lama maka bakal lebih banyak lagi operasional kilang yang terganggu.

“Sekarang karena semuanya sudah terselesaikan, produksi normal akan kembali lagi,” kata Cunningham seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (10/10/2020).

Walaupun penyelesaian mogok di Norwegia dapat menurunkan harga minyak karena produksi di sana kembali normal, harga minyak pekan ini sudah menguat dalam laju tertinggi sejak awal Juni. 

Penopangnya beragam, seperti bencana Badai Delta yang menurunkan produksi minyak mentah di Teluk Meksiko dan perkembangan stimulus fiskal Gedung Putih.

Harga minyak berjangka pun melonjak pekan ini ketika Presiden AS Donald Trump dilarikan ke rumah sakit karena terjangkit Covid-19. Pasalnya, optimisme terhadap penemuan vaksin membuat pelaku pasar mengantisipasi kembalinya permintaan minyak yang lebih tinggi.

Pada saat bersamaan, Menkeu AS Steven Mnuchin melanjutkan perundingan bersama Ketua DPR AS Nancy Pelosi pada Jumat (9/10/2020) mengenai penawaran Gedung Putih untuk stimulus senilai US$1,8 triliun.

Keduanya berbicara sekitar 30 menit dan proposal yang dibawa Mnuchin disebut membawa poin-pon yang telah diringkas oleh Partai Demokrat.

“Itu merupakan perkembangan positif. Kompleksitas industri minyak membutuhkan paket stimulus seperti aset kelas lainnya, bahkan mungkin lebih,” kata Parner Again Capital LLC John Kilduff.

Di sisi lain, laju Badai Delta telah berkurang ke kategori 2 dengan kecepatan angin 177 kilometer per jam. Perusahaan energi di lepas pantai dan tepi pantai Teluk Meksiko sudah menutup fasilitasnya dan mengevakuasi para pekerja. Saat ini, produksi minyak di Teluk Meksiko sekitar 1,7 juta barel per hari sudah ditutup.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak mentah norwegia

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top