Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Roller Coaster IHSG dan Dana Keluar Rp1.587 Triliun

Koreksi yang terjadi sepanjang tahun juga telah menguapkan kapitalisasi IHSG senilai Rp1.587,49 triliun dari posisi Rp7.265,01 triliun akhir 2019
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 01 Juli 2020  |  09:01 WIB
Pengunjung melintas di depan papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Abdurachman
Pengunjung melintas di depan papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — Sikap wait and see pelaku pasar terhadap pemulihan ekonomi riil di tengah terpaan pandemi Covid-19 diprediksi akan menciptakan volatiltas laju indeks harga saham gabungan semester II/2020.

Berdasarkan data yang Bloomberg, indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 0,07 persen atau 3,574 poin ke level 4.905,392 pada Selasa (30/6/2020). Realisasi itu sekaligus menutup pergerakan indeks dengan catatan koreksi 22,13 persen sepanjang periode berjalan semester I/2020.

Data yang dihimpun melalui Bloomberg menunjukkan koreksi itu menjadi yang terendah sejak semester I/2002. Dalam 18 tahun terakhir, koreksi IHSG hanya terjadi pada semester I/2008 sebesar 14,44 persen, semester I/2015 sebesar 6,05 persen, dan semester I/2018 sebesar 8,75 persen.

Koreksi yang terjadi sepanjang tahun juga telah menguapkan kapitalisasi IHSG senilai Rp1.587,49 triliun dari posisi Rp7.265,01 triliun akhir 2019. Investor asing tercatat membukukan net sell atau jual bersih Rp15,68 triliun di pasar reguler, tunai, dan negosiasi secara year to date (ytd).

Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menjelaskan bahwa setiap krisis selalu terjadi kejutan di pasar modal. Pasar modal Indonesia menurutnya salah satu bursa yang mendapatkan aliran dana investasi dari investor asing sejak 2015 hingga 2019.

“Dengan demikian, pada saat adanya shock seperti Covid-19 atau gejolak ekonomi global lainya, maka sensitivitas akan semakin tinggi,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (30/6/2020).

Frederik mengatakan sentimen dari dalam negeri juga turun menekan IHSG sepanjang semester I/2020. Salah satu katalis negatif yakni kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang bergulir sejak awal tahun.

Dia memprediksi IHSG masih akan bergerak volatil cenderung datar pada semester II/2020. Pasalnya, ekonomi baru saja kembali dibuka.

“Investor masih wait and see melihat apakah pemulihan benar-benar terjadi pada kuartal III/2020. Keraguan ini lebih dipicu dari dampak Covid-19 karena mengubah pola konsumsi masyarakat,” paparnya.

Frederik merekomendasikan emiten di sektor konsumsi, telekomunikasi, dan perbankan. Saham-saham dengan bisnis tersebut menurutnya menarik apabila diyakini ada pemulihan ekonomi.

Baru-baru ini, Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi produk domestik bruto (PDB) global akan menyusut 4,9 persen tahun ini atau lebih dalam dari proyeksi 3 persen yang dikeluarkan April 2020. Pada 2021, pertumbuhan hanya diperkirakan 5,4 persen atau turun dari prediksi sebelumnya 5,8 persen.

Proyeksi IMF itu menjadi penekan bursa global tidak terkecuali Indonesia. Akibatnya, laju IHSG bergerak fluktuatif dalam sepekan terakhir.

Sementara itu, Direktur CSA Institute Aria Santoso mengatakan kinerja IHSG semester I/2020 sangat terdampak Covid-19. Pelaku pasar menarik dana investasi ke instrumen yang lebih stabil di tengah kekhawatiran belum ditemukannya solusi atas penyebaran pandemi.

“IHSG dibentuk secara dominan oleh beberapa emiten yang bobotnya cukup besar terhadap indeks ini jadi saat emiten-emiten besar belum kembali ke harga semula pada 2019 maka IHSG terkesan tidak ada kenaikan yang berarti,” paparnya.

Aria memprediksi emiten di sektor konsumer seperti makanan dan rokok masih cukup stabil kinerjanya pada semester II/2020. Adapun, sektor konstruksi menurutnya akan mendapatkan pendapatan yang lebih baik paruh kedua tahun ini.

Dia menyebut saat ini belum tersedia likuiditas besar yang masuk kembali. Pelaku pasar masih menunggu hasil laporan kuartal kedua untuk memastikan emiten yang dapat bertahan di periode pandemi Covid-19.

“Setelah itu, akan terjadi rebalancing portfolio yang lebih berdasar untuk likuiditas yg lebih besar masuk kembali ke saham first liner,” paparnya.

Secara terpisah, Analis PT Kresna Securities Etta Rusdiana Putra masih mempertahankan target IHSG di level 5.830 hingga 5.890. Pihaknya optimistis bahwa pemulihan pasar modal di Indonesia memiliki pola v-shape.

Kenaikan IHSG diprediksi akan terjadi pada kuartal III/2020. Optimisme itu seiring dengan rollover kepada valuasi 2021.

Etta menjelaskan bahwa laju IHSG tertahan di level 5.000 disebabkan perbedaan persepsi valuasi antara 2020 dan 2021. Menurutnya, pelaku pasar dihadapkan kepada pilihan bertahan dengan valuasi 2020 atau bergeser kepada valuasi 2021.

Pengunjung melintas di depan papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Abdurachman


LAPIS KEDUA

Dalam 6 bulan terakhir, saham-saham lapis kedua atau berkapitalisasi kecil menengah mendominasi daftar 10 besar top leaders. Emiten pendorong IHSG sepanjang semester I/2020 yakni SMMA, TOWR, CARE, MDKA, DNET, MYOR, STTP, DSSA, LIFE, dan TURI.

Sebaliknya, saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo atau big caps menjadi penekan alias laggards IHSG. Daftar 10 besar top laggards IHSG dihuni oleh BBRI, BMRI, BBCA, ASII, TLKM, TPIA, BBNI, POLL, HMSP, dan BRPT.

Posisi ini berbanding terbalik dengan konstituen top leaders dan top laggards IHSG pada rentang semester I/2016—semester I/2019. Sebelumnya, saham-saham big caps lebih banyak menjadi pendorong utama penguatan bursa di dalam negeri.

Pada semester I/2019 misalnya, top leaders diisi oleh BBCA, BBRI, TLKM, FREN, BMRI, BRPT, BTPS, BBNI, JSMR, dan EXCL. Periode sebelumnya, daftar 10 besar pendorong indeks diisi oleh INKP, TKIM, MYOR, PTBA, BYAN, DNET, CPIN, INCO, BTPN, dan CASA.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio mengatakan saham lapis kedua menjadi pendorong IHSG karena valuasi yang relatif lebih murah dari dibandingkan dengan blue chips. Menurutnya, masih cukup sulit untuk emiten lapis pertama beraksi pada semester II/2020.

“Masih cukup sulit untuk emiten lapis pertama beraksi karena angka infeksi Covid-19 yang masih terus menanjak baik secara global maupun di Indonesia. Tetapi, ekonomi akan membaik setelah ditemukannya vaksin Covid-19, dan jika itu terjadi maka emiten blue chips akan menjadi penggerak indeks semester II/2020,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG saham Indeks BEI
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top