Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Prospek Stimulus Tambahan Dongkrak Wall Street Naik Tajam

Bursa saham Amerika Serikat berhasil rebound bahkan naik tajam pada akhir perdagangan Kamis (25/6/2020), saat investor mencermati prospek stimulus tambahan di tengah melonjaknya kasus infeksi virus corona (Covid-19).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 Juni 2020  |  05:30 WIB
Wall Street. - Bloomberg
Wall Street. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat berhasil rebound bahkan naik tajam pada akhir perdagangan Kamis (25/6/2020), saat investor mencermati prospek stimulus tambahan di tengah melonjaknya kasus infeksi virus corona (Covid-19).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 berakhir menanjak 1,10 persen atau 33,43 poin ke level 3.083,76, setelah berfluktuasi hampir sepanjang sesi perdagangan.

Sejalan dengan S&P, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 1,18 persen atau 299,66 poin ke level 25.745,60 dan indeks Nasdaq Composite ditutup naik tajam 1,09 persen atau 107,84 poin ke posisi 10.017.

Pada perdagangan Rabu (24/6/2020), ketiga indeks saham utama di bursa Wall Street AS tersebut kompak anjlok lebih dari 2 persen seiring dengan laporan melonjaknya kasus Covid-19 di sejumlah negara bagian.

Kendati demikian, indeks bertahan di arah untuk mencatat kenaikan bulanannya. Saham bank melonjak setelah pihak regulator melonggarkan aturan yang akan membebaskan modal.

Sementara itu, investor juga bergulat dengan hasil rilis data ekonomi yang beragam. Jumlah klaim pengangguran awal untuk pekan lalu dilaporkan lebih tinggi dari estimasi, tetapi pesanan barang-barang tahan lama tampak lebih baik dari perkiraan.

“Pasar sedang mencoba untuk mencerna apa timeline-nya, juga mengukur stimulus moneter dan stimulus fiskal di masa depan,” ujar senior money manager di Washington Crossing Advisors, Chad Morganlander.

“Ada banyak hal yang tidak diketahui tetapi kita harus yakin bahwa latar belakang moneter dan latar belakang fiskal akan mendukung pasar, jadi kita sedikit lebih optimistis selama 18-24 bulan ke depan,” terangnya, seperti dilansir dari Bloomberg.

Kekhawatiran atas kemungkinan lockdown kembali diberlakukan dan reopening ekonomi berjalan lebih lambat telah membebani sentimen pasar saat investor mencermati laporan rekor peningkatan kasus secara harian.

Di belahan lain dunia, para pemimpin kesehatan menyerukan Inggris untuk mempersiapkan kemungkinan gelombang kedua Covid-19 dan Australia mencatat lonjakan kasus baru Covid-19 terbesar sejak April.

“Pasar benar-benar gemetar atas prospek lonjakan kasus Covid dan mungkin mulai melihat bahwa tempat-tempat yang dibuka harus ditutup [kembali],” ujar Manajer Portofolio di Wells Fargo Asset Management, Margie Patel.

“Kita [pasar saham] telah bergerak luar biasa dari akhir Maret. Hanya saja tak terhindarkan jika kita harus mengalami setidaknya sedikit pergerakan mundur,” tambahnya.

Sejalan dengan bursa AS, indeks Stoxx Europe 600 berakhir menguat 0,7 persen. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,1 persen, sebaliknya nilai tukar euro terhadap dolar AS turun 0,2 persen menjadi US$1.1226.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street bursa global
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top