Tawarkan Kupon 6,8 Persen, ORI016 Menarik untuk Dikoleksi?

Instrumen ORI016 menawarkan kupon 6,8 persen. Apakah obligasi ritel itu menarik untuk dikoleksi investor?
Dwi Nicken Tari, Duwi S. Ariyanti, Annisa Sulistyo Rini
Dwi Nicken Tari, Duwi S. Ariyanti, Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 01 Oktober 2019  |  10:56 WIB
Tawarkan Kupon 6,8 Persen, ORI016 Menarik untuk Dikoleksi?
Obligasi Ritel Indonesia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pada 2 Oktober 2019, pemerintah akan memulai penawaran obligasi negara ritel seri ORI016 yang membanderol kupon 6,8 persen per tahun. Apakah instrumen investasi itu menarik untuk dikoleksi?

Tingkat kupon itu disampaikan Kementerian Keuangan dalam pengumuman kepada para agen penjual pada Senin (30/9/2019). Dibandingkan dengan 7 days reverse repo rate Bank Indonesia yang ada di level 5,25 persen, tingkat kupon ORI016 memiliki spread sebesar 155 basis poin.

Namun, tingkat kupon ORI016 jauh lebih rendah dari kupon ORI015 yang terbit pada tahun lalu, yakni 8,25 persen. Kendati demikian, kupon ORI016 masih lebih tinggi 95 basis poin dari level kupon ORI terendah sepanjang sejarah di level 5,85 persen pada 2017 atau seri ORI014.

struktur ORI016

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan besaran kupon tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang masih berada di level 7%.

Dibandingkan dengan produk-produk surat utang negara untuk pasar ritel yang diterbitkan pemerintah sebelumnya, kupon tersebut menunjukkan terus terjadi penurunan.

Kendati demikian, Ramdhan menilai pemerintah sebagai penerbit telah memperhitungkan kondisi pasar dan mempertimbangkan penurunan suku bunga acuan yang saat ini berada di angka 5,25%.

"Agak kurang menarik sebagai instrumen dengan kupon 6,8%, tetapi menurut saya pasar masih ada," ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Senin (30/9/2019).

Menurutnya, kupon ORI016 masih lebih tinggi dibandingkan dengan produk deposito perbankan. Saat ini bunga deposito perbankan disebutkan berada di rentang 4% hingga 6%.

Ramdhan mengatakan agen penjualan harus bisa lebih aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar pasar lebih luas dan menonjolkan kelebihan ORI dibandingkan deposito, seperti pajak yang lebih rendah dan bisa diperjualbelikan di pasar sekunder.

"Produk ini juga dijamin pemerintah sehingga lebih aman dan bunga juga dibayarkan setiap bulan. Karakter-karakter ini harus ditonjolkan," katanya.

Senada, Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus memprediksi penawaran ORI016 tak akan bisa merangsang minat investor.

Proyeksi itu berkaca dari penawaran seri ORI014 yang mematok kupon rendah yakni 5,85%. Saat itu, ORI014 hanya menjaring dana sebesar Rp8,95 triliun.

"Sebelumnya kan ada seri ORI yang enggak laku. ORI yang ini [ORI016] kasusnya sama," ujarnya, Senin (30/9/2019).

Realisasi Penerbitan ORI
SeriTahunKupon (%)Total Nilai Penerbitan
ORI001200612,05Rp3,28 triliun
ORI00220079,28Rp6,23 triliun
ORI00320079,4Rp9,36 triliun
ORI00420089,5Rp13,45 triliun
ORI005200811,45Rp2,71  triliun
ORI00620099,35Rp8,54  triliun
ORI00720107,95Rp8 triliun
ORI00820117,3Rp11 triliun
ORI00920126,25Rp12,68 triliun
ORI01020138,5Rp20,2 triliun
ORI01120148,5Rp21,21 triliun
ORI01220159,0Rp27,44 triliun
ORI01320166,6Rp19,7 triliun
ORI01420175,85Rp8,95 triliun
ORI01520188,25Rp23,27 triliun

Sumber: DJPPR Kemenkeu, diolah.

Dia berujar kupon yang ditawarkan Pemerintah pada ORI016 kurang menarik. Pasalnya, kupon tersebut lebih rendah dari SUN tenor 3 tahun yang sebesar 6,5%.

Selain itu, kupon tersebut tak cukup kompetitif bila dibandingkan dengan instrumen lain seperti deposito kendati dari sisi pajak lebih rendah yakni 15%. Adapun, deposito dikenakan pajak 20%.

"Kalau bedanya 30 basis buat apa? Bank BUKU I, BUKU II bisa kasih[bunga] lebih besar tanpa menunggu hold 3 tahun," katanya.

Dia mengakui kupon 6,8% yang ditawarkan Pemerintah di bawah ekspektasi investor. Dia menyebut sulit bagi Pemerintah untuk menarik minat investor bila kupon yang ditawarkan terlalu rendah meskipun ORI memiliki fitur bisa diperjualbelikan.

Menurutnya, fitur tersebut bisa dimanfaatkan segmen investor selain ritel. Dengan demikian, pada akhirnya kupon bakal menentukan minat investor terhadap ORI016.

"Tujuannya buat siapa kalau memang untuk ritel tolong kasih kupon yang lebih baik men-shifting kepemilikan asing menjadi lokal sehingga volatilitas di pasar bond berkurang. Mereka [investor ritel] lebih suka buy and hold," katanya.

Reinvestasi

Sementara itu, analis fixed income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra menilai ORI016 masih menarik dengan kupon sebesar 6,8%.

"Dengan kupon seperti itu masih menarik. Terlebih di tengah ekspektasi penurunan suku bunga," kata Made kepada Bisnis, Senin (30/9/2019).

Dia melanjutkan, dibandingkan dengan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) bertenor 3 tahun, kupon ORI16 masih lebih tinggi di mana yield tenor 3 tahun ada di kisaran 6,5%.

Selain itu, kupon ORI16 juga masih di atas kupon ORI13 yang akan jatuh tempo. "Sehingga investor yang punya ORI13 dapat mereinvestasikan dananya di ORI16," imbuh Made.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top