Manajer Investasi Ramai-ramai Terbitkan ETF

Untuk menyemarakkan perdagangan ETF di pasar sekunder, Bursa Efek Indonesia bahkan telah memberlakukan peniadaan levy fee dan penghapusan pajak final untuk produk ETF pada awal bulan ini.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 01 Oktober 2019  |  10:15 WIB
Manajer Investasi Ramai-ramai Terbitkan ETF
Pengunjung berjalan di dekat logo PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin (8/10/2018). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA --Sejumlah manajer investasi mulai ramai menerbitkan produk reksa dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded fund (ETF). 

Untuk menyemarakkan perdagangan ETF di pasar sekunder, Bursa Efek Indonesia bahkan telah memberlakukan peniadaan levy fee dan penghapusan pajak final untuk produk ETF pada awal bulan ini.

Menjelang akhir tahun ini, PNM Investment Management masih akan menerbitkan satu produk ETF lagi. Terbaru, PT PNM Investment Management ikut meramaikan jejeran produk reksa dana yang dapat diperdagangkan di bursa dengan meluncurkan produk reksa dana ETF perdananya, Reksa Dana PNM ETF Core LQ45.

Direktur Investasi PNM IM Solahudin menyampaikan, setelah penerbitan produk reksa dana core ini berikutnya perseroan berencana menerbitkan produk reksa dana ETF satelit atau produk yang lebih tematis.

“Tahun ini [akan menerbitkan] 2 ETF. Mudah-mudahan satu lagi [sampai akhir tahun],” ujar Solahudin di Jakarta, Senin (1/10/2019).

Adapun indeks yang akan dijadikan underlying asset masih dipertimbangkan sesuai dengan tema yang unggul di pasar. 

Menurut Solahudin, dengan pertimbangan Bank Indonesia bakal memangkas suku bunga satu kali lagi pada akhir tahun ini, sektor properti dinilai akan menjadi salah satu sektor yang diuntungkan.

ETF adalah reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek. Meskipun ETF pada dasarnya adalah reksa dana, produk ini diperdagangkan seperti saham-saham yang ada di bursa efek. ETF merupakan penggabungan antara unsur reksa dana dalam hal pengelolaan dana dengan mekanisme saham dalam hal transaksi jual maupun beli.

INDO PREMIER

Sebelumnya, Product Manager Indo Premier Sekuritas Robin Reagan mengungkapkan bahwa Indo Premier Investment Management akan meluncurkan 4 produk ETF menjelang akhir tahun.

“Ada 4, pasif dan aktif. Kami masih menunggu dari IPIM,” ujarnya kepada Bisnis.  Saat ini sudah ada 6 produk ETF yang diperdagangkan oleh Indo Premier Sekuritas selaku diler partisipan.

Diharapkan, dari produk eksisting ini bisa menambah dana kelolaan senilai Rp12 triliun menjelang akhir tahun. Sementara tambahan 4 produk lagi nantinya diharapkan bisa menambah AUM senilai Rp2 triliun.

“Nanti yang kalau sudah menjadi 10 [produk ETF], dibulatkan Rp2 triliun lagi. Masih ada 1 kuartal untuk dikejar,” imbuh Robin.

Adapun, pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) selama pekan lalu sebesar 0,55persen ke level 6.197 turut menekan hampir semua indeks acuan reksa dana ETF.

Selama sepekan, terpantau hanya indeks Sri Kehati menguat sebesar 0,07persen. Sementara indeks Jakarta Islamic Index (JII) dan Indonesia High Dividen 20 masing-masing membukukan pelemahan terbesar -1,25persen dan -1,10persen.

Tim Riset ETF Indo Premier Sekuritas mencatat, pada pekan lalu hanya ada satu reksadana ETF yang berhasil membukukan penguatan tipis yaitu XBSK (Reksa Dana Indeks Batavia SRI-KEHATI ETF) yang naik 0,05persen ke level 396. 

Di sisi lain, reksa dana ETF yang mencatatkan pelemahan terbesar dibukukan oleh ETF XISI (Premier ETF SMINFRA18) yang turun 2,57persen ke level 346. 

“Meskipun sentimen perang dagang dalam sepekan lalu mereda namun maraknya aksi demo di berbagai wilayah Indonesia yang dilakukan oleh berbagai kalangan terutama mahasiswa membuat IHSG mengalami tekanan,” tulis Tim Riset ETF Indo Premier Sekuritas yang dikepalai Alexander I. Salim, Senin (30/9/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top